Posted by: amrandazmind | October 27, 2008

Mali robbun siwa

ma li robbun siwa
wa fa un yamhujjunuh
ma li robun siwa
nu run yahdil qulub

ya allah ..abdun kafuro junubi
jadat hauli qurubi
minka ilaika hurubi

ya allah la tahrimni naibah ,
latadrub ni saQimah
ya mannan nar rohimma …haw wow

ya allah antal aliyul qodirul ajimu
ya allah antas samiul basirul alimu
ya allah antal aliyul qodirul ajimu
ya allah antas samiul basiru alimu

na na na na na na na na na na na na na na na na …

ma li robbun siwa
robbus samail ‘atuh
yagfirunim man a asho ,
wahuwal halimur rouf

ya allah rohmanulil baroya ,
goffarulil khotoya
warojaihuwa hudaya

ya allah ya irham do’fi wa hali
faqolam bukti mali
fagfirli ya jaljalali …. how wow

ya allah antal ajijul gofurur rohimu
ya allah antal kuddusus salamul karimu
ya allah antal ajijur gofurur rohimu
ya allah antal quddussus salamul karimu

na na na na na na na na na na na na na na na na …

Posted by: amrandazmind | October 24, 2008

Tempat Belajar Oracle

http://nabila-tulisan.blogspot.com

Posted by: amrandazmind | October 24, 2008

Tanya – Jawab Agama

www.darulfatwa.org.au
عقیدة المسلمین
1. Apakah yang dimaksud dengan ilmu agama yang (hukum mempelajarinya)
fardlu ‘ain ?
Jawab: Diwajibkan atas setiap mukallaf (baligh dan berakal) untuk mempelajari
kadar ilmu agama yang ia butuhkan seperti masalah aqidah (keyakinan), bersuci,
shalat, puasa, zakat bagi yang wajib mengeluarkannya, haji bagi yang mampu,
maksiat-maksiat hati, tangan, mata dan lain-lain. Allah ta’ala berfirman:
( [ قل هل يستوي الذين يعلمون والذين لا يعلمون ] (سورة الزمر : 9
Maknanya: “Katakanlah (wahai Muhammad) tidaklah sama orang yang mengetahui
dan orang yang tidak mengetahui” (Q.S. az-Zumar: 9)
Dalam hadits disebutkan:
“طلب العلم فريضة على كل مسلم” (رواه البيهقي)
Maknanya: “Menuntut ilmu agama (yang dlaruri / pokok) adalah wajib atas setiap
muslim (laki-laki dan perempuan)” (H.R. al Bayhaqi)
2. Apakah hikmah dari penciptaan jin dan manusia ?
Jawab: Untuk diperintahkan Allah agar beribadah kepada-Nya. Allah ta’ala
berfirman:
( [ وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون ] (سورة الذاريات : 56
Maknanya: “Dan tiadalah aku ciptakan jin dan manusia kecuali (Aku perintahkan
mereka) untuk beribadah kepada-Ku” (Q.S. adz-Dzariyat: 56)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا” (رواه الشيخان)
Maknanya: “Hak Allah atas para hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak
menyekutukan-Nya dengan sesuatupun” (H.R. al Bukhari dan Muslim)
3. Bagaimanakah sahnya ibadah ?
Jawab: Beribadah kepada Allah (hanya) sah dilakukan oleh orang yang
meyakini adanya Allah dan tidak menyerupakan-Nya dengan sesuatu apapun
dari makhluk-Nya. Allah ta’ala berfirman:
www.darulfatwa.org.au
( [ ليس كمثله شىء ] (سورة الشورى: 11
Maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya dan tidak ada
sesuatupun yang menyerupai-Nya” (Q.S. asy-Syura: 11)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“لا فكرة في الرب” (رواه أبو القاسم الأنصاري)
Maknanya: “Tuhan tidak bisa dipikirkan (dibayangkan)” (H.R. Abu al Qasim al
Anshari)
Al Ghazali berkata:
“لا تصح العبادة إلا بعد معرفة المعبود”.
Maknanya: “Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (Allah) yang
wajib disembah”.
4. Kenapa Allah mengutus para rasul ?
Jawab: Allah mengutus para rasul untuk mengajarkan kepada umat manusia
hal-hal yang membawa kemaslahatan (kebaikan) dalam agama dan dunia
mereka. Dan untuk mengajak mereka menyembah Allah dan tidak
menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Allah ta’ala berfirman:
( [ فبعث الله النبيين مبشرين ومنذرين ] (سورة البقرة : 213
Maknanya: “…Maka Allah mengutus para nabi untuk memberikan kabar gembira dan
memberi peringatan” (Q.S. al Baqarah: 213)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“أفضل ما قلت أنا والنبيون من قبلي لا إله إلا الله” (رواه البخاري)
Maknanya: “Perkataan paling utama yang aku dan para nabi sebelumku adalah
ucapkan لا إله إلا الله (tiada yang disembah dengan benar kecuali Allah)” (H.R. al
Bukhari)
5. Apakah arti Tauhid ?
Jawab: Tauhid adalah:
“التوحيد إفراد القديم من المحدث”.
“Tauhid adalah mensucikan (Allah) yang tidak mempunyai permulaan dari menyerupai
makhluk-Nya”.
Sebagaimana dijelaskan oleh al Imam al Junayd. Maksud beliau dengan al Qadim
adalah Allah yang tidak mempunyai permulaan, sedangkan al Muhdats adalah
makhluk.
www.darulfatwa.org.au
Allah ta’ala berfirman:
( [ ليس كمثله شىء ] (سورة الشورى: 11
Maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya dan tidak ada
sesuatupun yang menyerupai-Nya” (Q.S. asy-Syura: 11)
Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam ditanya: Perbuatan apa yang
paling utama? Rasulullah menjawab:
“إيمان بالله ورسوله” (رواه البخاري)
Maknanya: “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya” (H.R. al Bukhari)
6. Jelaskan mengenai keberadaan Allah !
Jawab: Allah ada, tidak ada keraguan akan ada-Nya. Ada tanpa disifati dengan
sifat-sifat makhluk dan ada tanpa tempat dan arah. Dia tidak menyerupai
sesuatupun dari makhluk-Nya dan tidak ada sesuatupun dari makhluk-Nya
yang menyerupai-Nya.
Allah ta’ala berfirman:
( [ أفي الله شك ] (سورة إبراهيم : 10
Maknanya: “Tidak ada keraguan akan adanya Allah” (Q.S. Ibrahim: 10)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“كان الله ولم يكن شىء غيره” (رواه البخاري وغيره)
Maknanya: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan tidak ada
sesuatupun selain-Nya” (H.R. al Bukhari dan lainnya)
7. Apakah makna firman Allah:
[ وهو معكم أينما كنتم ] ؟
Jawab: Maknanya bahwa Allah mengetahui kalian di manapun kalian berada,
sebagaimana dikatakan oleh Imam Sufyan ats-Tsauri, asy-Syafi’i, Ahmad, Malik
dan lain-lain.
Allah ta’ala berfirman:
( [ وأن الله قد أحاط بكل شىء علما ] (سورة الطلاق : 12
Maknanya: “Dan sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu” (Q.S. ath-
Thalaq: 12)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“اربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائبا وإنما تدعون سميعا قريبا” (رواه البخاري)
Maknanya: “Janganlah kalian memaksakan diri untuk mengeraskan suara (secara
berlebihan), karena kalian tidak berdoa kepada Dzat yang tuli dan ghaib, sesungguhnya
www.darulfatwa.org.au
kalian berdoa kepada Dzat yang maha mendengar lagi maha dekat (secara maknawi,
bukan secara fisik)” (H.R. al Bukhari)
Maknanya bahwa tidak ada sesuatu yang tersembunyi bagi Allah.
8. Apakah dosa yang paling besar ?
Jawab: Dosa paling besar adalah kufur. Dan termasuk kufur adalah syirik. Syirik
adalah menyembah selain Allah. Allah ta’ala berfirman tentang Luqman, bahwa
Luqman berkata:
( [ يا بني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم ] (سورة لقمان : 13
Maknanya: “Wahai anakku, jangan menyekutukan Allah (syirik) karena menyekutukan
Allah (syirik) adalah kezhaliman yang besar” (Q.S. Luqman: 13)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam pernah ditanya: apakah dosa yang paling
besar ? beliau menjawab: “Engkau menyekutukan Allah padahal Ia telah
menciptakanmu” (H.R. al Bukhari dan lainnya)
9. Apakah arti ibadah ?
Jawab: Ibadah adalah puncak ketundukan dan ketaatan sebagaimana yang
dikatakan oleh al Hafizh as-Subki. Allah ta’ala berfirman:
( [ لا إله إلا أنا فاعبدون ] (سورة الأنبياء : 25
Maknanya: “Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Aku (Allah), maka
beribadahlah kepada-Ku” (Q.S. al Anbiya’ : 25)
10. Apakah الدعاء (kadang) bermakna ibadah ?
Jawab: Ya, Allah ta’ala berfirman:
( [ قل إنما أدعو ربي ولا أشرك به أحدا ] (سورة الجن : 20
Maknanya: “Katakanlah (wahai Muhammad) sesungguhnya aku hanyalah beribadah
kepada Tuhanku dan tidak menyekutukan-Nya dengan seorangpun” (Q.S. al Jinn: 20)
Maknanya bahwa aku menyembah atau beribadah kepada Allah.
Allah juga berfirman:
( [ فلا تدعوا مع الله أحدا ] (سورة الجن : 18
Maknanya: “Maka janganlah kamu menyembah (beribadah) seorangpun di samping
(menyembah) Allah” (Q.S. al Jinn: 18)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda yang maknanya adalah: “Doa
adalah ibadah” (H.R. al Bukhari)
Makna ibadah dalam hadits ini adalah kebaikan.
www.darulfatwa.org.au
11. Apakah الدعاء (kadang) mempunyai arti selain ibadah ?
Jawab: Ya, Allah ta’ala berfirman:
( [ ولا تجعلوا دعاء الرسول بينكم كدعاء بعضكم بعضا ] (سورة النور : 63
Maknanya: “Janganlah kamu jadikan doa (panggilan) Rasulullah di antara kamu seperti
panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain” (Q.S. an-Nur: 63)
12. Apakah hukum memanggil (Nida’) seorang nabi atau seorang wali, meski
tidak di hadapan keduanya, dan apa hukum meminta kepada nabi atau wali
sesuatu yang biasanya tidak pernah diminta oleh umat manusia ?
Jawab: Itu semua boleh dilakukan, karena perbuatan seperti itu tidaklah
dianggap beribadah kepada selain Allah. Ucapan “Wahai Rasulullah” semata
bukanlah syirik. Dalam sebuah hadits yang tsabit disebutkan bahwa Bilal ibn al
Harits al Muzani (salah seorang sahabat Nabi) mendatangi makam Rasulullah
shallallahu ‘alayhi wasallam saat musim paceklik di masa pemerintahan Umar ibn
al Khaththab –semoga Allah meridlainya- lalu Bilal berkata (di depan makam
Nabi): “Wahai Rasulullah ! mohonlah (kepada Allah) agar diturunkan air hujan
untuk umatmu, karena sungguh mereka telah binasa” (H.R. al Bayhaqi dan
lainnya). Apa yang dilakukan sahabat Bilal ini sama sekali tidak diingkari oleh
sahabat Umar dan para sahabat lainnya, bahkan mereka menilai perbuatan
tersebut bagus. Allah ta’ala berfirman:
[ ولو أم إذ ظلموا أنفسهم جاءوك فاستغفروا الله واستغفر لهم الرسول لوجدوا الله توابا رحيما ]
( (سورة النساء : 64
Maknanya: “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menzhalimi diri mereka (berbuat
maksiat kepada Allah) kemudian datang kepadamu lalu memohon ampun kepada Allah,
dan Rasulullah-pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati
Allah maha menerima taubat lagi maha penyayang” (Q.S. an-Nisa: 64)
Juga dalam hadits yang tsabit telah disebutkan: Bahwa Ibnu Umar mengatakan:
يا محمد (wahai Muhammad) ketika merasakan semacam kelumpuhan pada kakinya (H.R.
al Bukhari dalam kitabnya al Adab al Mufrad)
13. Jelaskan mengenai arti “Istighatsah” dan “Isti’anah” disertai dengan dalil ?
Jawab: Istighatsah adalah meminta pertolongan ketika dalam keadaan sukar dan
sulit. Sedangkan Isti’anah maknanya lebih luas dan umum. Allah ta’ala
berfirman:
www.darulfatwa.org.au
( [ واستعينوا بالصبر والصلاة ] ( سورة البقرة : 45
Maknanya: “Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat” (Q.S. al Baqarah: 45)
Dalam hadits disebutkan: “Matahari akan mendekat ke kepala manusia di hari kiamat,
ketika mereka berada pada kondisi seperti itu mereka beristighatsah (meminta
pertolongan) kepada Nabi Adam” (H.R. al Bukhari). Hadits ini merupakan dalil
dibolehkannya isti’anah (meminta pertolongan) secara umum kepada selain
Allah. Namun hal itu harus disertai dengan keyakinan bahwa tidak ada yang
bisa mendatangkan bahaya dan memberikan manfa’at secara hakiki kecuali
Allah.
14. Terangkan tentang tawassul dengan para nabi?
Jawab: Para ulama sepakat bahwa tawassul dengan para nabi itu boleh. Tawassul
adalah memohon datangnya manfa’at (kebaikan) atau dihindarkan dari mara
bahaya (keburukan) dari Allah dengan menyebut nama seorang nabi atau wali
untuk memuliakan (ikram) keduanya, dengan disertai keyakinan bahwa yang
mendatangkan bahaya dan manfa’at secara hakiki hanyalah Allah semata. Allah
ta’ala berfirman:
( [ وابتغوا إليه الوسيلة ] (سورة المائدة : 35
Maknanya: “Dan carilah hal-hal yang (bisa) mendekatkan diri kalian kepada Allah”
(Q.S. al Mai-dah: 35)
Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam
mengajarkan kepada seorang yang buta untuk bertawassul dengannya. Lalu
orang buta tersebut melaksanakannya di belakang (bukan di hadapan) Nabi,
maka Allah mengembalikan penglihatannya (H.R. ath-Thabarani dan
dishahihkannya)
15. Jelaskan mengenai tawassul dengan para wali !
Jawab: Boleh bertawassul dengan para wali, tidak diketahui ada orang yang
menyalahi kebolehan ini dari kalangan Ahlul Haqq (orang-orang yang berada di
jalur kebenaran), baik generasi Salaf maupun Khalaf. Dalam hadits diceritakan
bahwa Umar bertawassul dengan ‘Abbas (paman Rasulullah). Umar berkata:
“Ya Allah kami bertawassul kepada-Mu dengan paman Nabi kami (‘Abbas)
(supaya Engkau turunkan air hujan)” (H.R. al Bukhari)
16. Terangkan mengenai hadits al Jariyah (sebuah hadits di mana Rasulullah
bertanya kepada seorang budak perempuan: “Aina Allah?, lalu ia menjawab:
Fi as-Sama”)!
www.darulfatwa.org.au
Jawab: Hadits tersebut mudltharib (diriwayatkan dengan lafazh matan yang
berbeda-beda dan saling bertentangan sehingga menjadikannya dihukumi
sebagai hadits dla’if). Adapun sebagian ulama yang menganggapnya shahih,
menurut mereka bukan berarti hadits ini mengandung makna bahwa Allah
menempati langit. Imam an-Nawawi mengomentari hadits ini dengan
mengatakan: “Aina Allah adalah pertanyaan tentang derajat dan kedudukan-Nya
bukan mengenai tampat-Nya”. Aina Allah berarti seberapa besar
pengagunganmu terhadap Allah ?. Jawabannya: “Fi as-Sama” mempunyai
makna bahwa Allah, derajat dan kedudukan-Nya sangat tinggi. Tidak boleh
diyakini bahwa Rasulullah bertanya kepada budak perempuan tersebut tentang
tempat (di mana) Allah ? dan juga tidak boleh diyakini bahwa budak perempuan
itu bermaksud Allah menempati langit. Imam Ali ibn Abi Thalib –semoga Allah
meridlainya- berkata:
“إن الذي أين الأين لا يقال له أين …” (ذكره أبو القاسم القشيري في الرسالة القشيرية)
“Tidak boleh dikatakan di mana bagi Dzat yang menciptakan di mana (tempat) …”
(Disebutkan dalam kitab ar-Risalah al Qusyairiyyah karya Abu al Qasim al
Qusyairi). Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqh al Absath menyatakan:
“كان الله ولا مكان ، كان ولم يكن أين ولا خلق وهو خالق كل شىء”.
“Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada tempat, Dia ada
(pada azal) dan belum ada tempat serta makhluk, dan Dia pencipta segala sesuatu”.
Allah ta’ala berfirman:
( [ ليس كمثله شىء ] (سورة الشورى: 11
Maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya dan tidak ada
sesuatupun yang menyerupai-Nya” (Q.S. asy-Syura: 11)
Dalam hadits:
“كان الله ولم يكن شىء غيره” (رواه البخاري)
Maknanya: “ Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatu
selain-Nya” (H.R. al Bukhari)
17. Orang yang mencaci maki Allah hukumnya adalah kafir. Jelaskan
mengenai hal ini disertai dengan dalil !
Jawab: al Qadli ‘Iyadl mengutip Ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa orang yang
mencaci maki Allah adalah kafir meskipun dalam keadaan marah, bercanda atau
hati yang tidak lapang (meski hatinya tidak ridla dengan makian terhadap Allah
yang diucapkan oleh lisan).
Allah ta’ala berfirman:
www.darulfatwa.org.au
(ولئن سألتهم ليقولن إنما كنا نخوض ونلعب قل أبالله وءاياته ورسوله كنتم تستهزءون لا تعتذروا قد
(66- كفرتم بعد إيمانكم) (سورة التوبة : 65
Maknanya: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka katakan
itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan
bermain-main saja”. Katakanlah (kepada mereka) Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya
dan Rasul-Nya kalian berolok-olok (melecehkan), tidak usah kalian meminta maaf, kalian
benar-benar menjadi kafir setelah kalian beriman” (Q.S. at-Taubah: 65-66)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“إن العبد ليتكلم بالكلمة لا يرى ا بأسا يهوي ا في النار سبعين خريفا” (رواه الترمذي)
Maknanya: “Sungguh seorang hamba jika mengucapkan perkataan (yang melecehkan
atau menghina Allah atau syari’at-Nya) yang dianggapnya tidak bahaya, (padahal
perkataan tersebut) bisa menjerumuskannya ke (dasar) neraka (yang untuk mencapainya
dibutuhkan waktu) 70 tahun (dan tidak akan dihuni kecuali oleh orang kafir)” (H.R. at-
Tirmidzi dan ia menyatakan hadits ini hasan)
18. Sebutkan dalil dibolehkannya ziarah kubur bagi laki-laki dan perempuan
?
Jawab: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“زوروا القبور فإا تذكركم بالآخرة” (رواه البيهقي)
Maknanya: “Lakukanlah ziarah kubur, karena sesungguhnya ia dapat mengingatkan
kalian akan kehidupan akhirat” (H.R. al Bayhaqi)
19. Bagaimanakah cara masuk Islam ?
Jawab: Cara masuk Islam adalah dengan mengucapkan dua kalimat syahadat,
bukan dengan mengucapkan أستغفر الله . Adapun firman Allah tentang Nabi Nuh
‘alayhi as-salam bahwa ia mengatakan:
( (فقلت استغفروا ربكم) (سورة نوح : 10
Maknanya adalah bahwa Nabi Nuh menyeru kepada kaumnya untuk masuk
Islam dengan beriman kepada Allah dan Nabi-Nya Nuh ‘alayhi as-salam supaya
Allah mengampuni mereka.
Dalam hadits disebutkan:
“أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأني رسول الله” (متفق عليه)
Maknanya: “Aku diperintahkan untuk memerangi umat manusia sehingga mereka
bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah utusan
Allah” (H.R. al Bukhari dan Muslim)
www.darulfatwa.org.au
20. Jelaskan mengenai hukum mengucapkan pujian (mad-h) untuk Rasulullah
!
Jawab: Hukumnya boleh dengan Ijma’ (kesepakatan para ulama’).
Allah ta’ala berfirman:
( (وإنك لعلى خلق عظيم) (سورة القلم : 4
Maknanya: “Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad mempunyai perilaku yang
agung” (Q.S. al Qalam: 4)
Allah juga berfirman:
( (وعزروه ونصروه) (سورة الأعراف : 157
Maknanya: “… dan mereka memuji, mengagungkan dan membela Rasulullah” (Q.S. al
A’raf: 157)
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa suatu ketika ada sejumlah perempuan
yang memuji Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam dengan mengatakan di hadapan
Nabi:
“يا حبذا محمد من جار” (رواه ابن ماجه)
“Muhammad adalah seorang tetangga yang sangat agung” (H.R. Ibnu Majah)
Telah disebutkan dengan sanad yang shahih bahwa tidak sedikit sahabat Nabi
yang memuji-muji Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam seperti Hassan ibn
Tsabit, ‘Abbas dan yang lainnya, dan Rasulullah sendiri tidak mengingkari hal
tersebut, bahkan sebaliknya justru menganggapnya sebagai perbuatan yang
baik.
21. Jelaskan tentang siksa kubur !
Jawab: Beriman akan adanya siksa kubur adalah wajib, ketetapan akan adanya
siksa kubur telah disepakati oleh umat Islam (Ijma’) dan barang siapa yang
mengingkarinya maka ia telah kafir. Allah ta’ala berfirman:
(النار يعرضون عليها غدوا وعشيا ويوم تقوم الساعة أدخلوا ءال فرعون أشد العذاب) (سورة غافر
(46:
Maknanya: “Kepada mereka (orang-orang kafir pengikut Fir’aun) dinampakkan neraka
pada pagi dan petang (di kuburan mereka), dan pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan
kepada malaikat): Masukkan Fir’aun dan orang-orang yang mengikutinya dalam
kekufuran ke dalam siksa (neraka) yang sangat pedih” (Q.S. Ghafir: 46)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“استعيذوا بالله من عذاب القبر” (رواه البخاري)
Maknanya: “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur” (H.R. al Bukhari)
www.darulfatwa.org.au
22. Apakah makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah ?
Jawab: Makhluk pertama adalah air. Allah ta’ala berfirman:
( (وجعلنا من الماء كل شىء حي) (سورة الأنبياء: 30
Maknanya: “Dan telah Kami (Allah) ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup (dan
yang mati)” (Q.S. al Anbiya’: 30)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“كل شىء خلق من الماء” (رواه ابن حبان)
Maknanya: “Segala sesuatu diciptakan dari air” (H.R. Ibn Hibban)
23. Terangkan mengenai macam-macam Bid’ah dan sebutkan dalil yang
menunjukkan adanya Bid’ah Hasanah (yang baik) !
Jawab: Bid’ah secara etimologi adalah segala hal yang diadakan tanpa ada
contoh sebelumnya. Adapun dalam tinjauan syara’, Bid’ah terbagi menjadi dua;
Bid’ah Huda (baik) dan Bid’ah Dlalalah (sesat).
Allah ta’ala berfirman:
( (ورهبانية ابتدعوها ما كتبناها عليهم إلا ابتغاء رضوان الله) (سورة الحديد : 27
Maknanya: “… dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak
mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya)
untuk mencari keridlaan Allah” (Q.S. al Hadid: 27)
Allah memuji perbuatan para pengikut nabi Isa ‘alayhissalam yang muslim, yaitu
melakukan rahbaniyyah (menjauhkan diri dari hal-hal yang mendatangkan
kesenangan nafsu, supaya bisa berkonsentrasi penuh dalam melakukan ibadah),
padahal hal itu tidak diwajibkan atas mereka. Hal ini mereka lakukan sematamata
untuk mencari ridla Allah.
Dalam hadits disebutkan:
“من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل ا من بعده” (رواه مسلم)
Maknanya: “Barang siapa yang merintis (memulai) dalam Islam perbuatan yang baik,
maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang setelahnya yang melakukan
perbuatan baik tersebut” (H.R. Muslim)
Para sahabat Nabi dan generasi muslim setelahnya banyak melakukan hal-hal
baru (yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah) yang baik dalam agama, dan
umat Islam menerima hal itu seperti membangun mihrab (tempat imam di
masjid), adzan kedua untuk shalat jum’at, pemberian titik dalam mushhaf (al
Qur’an) dan peringatan maulid Nabi.
www.darulfatwa.org.au
24. Jelaskan mengenai perbuatan sihir !
Jawab: Melakukan sihir hukumnya adalah haram. Allah berfirman:
( (وما كفر سليمان ولكن الشياطين كفروا يعلمون الناس السحر) (سورة البقرة : 102
Maknanya: “Dan tidaklah Nabi Sulaiman itu kafir, akan tetapi syetan-syetan itulah
yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia (dengan meyakini bahwa hal ini
sebagai perkara yang halal dan boleh)” (Q.S. al Baqarah: 102)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda yang maknanya: “Jauhilah tujuh
hal yang membinasakan. Beliau ditanya: Apa saja tujuh hal itu, wahai Rasulullah ?,
beliau menjawab: Menyekutukan Allah, sihir …”(H.R. Muslim)
25. Sebutkan dalil bahwa orang yang melempar lembaran bertuliskan nama
Allah ke tempat-tempat kotor (menjijikkan) dengan maksud melecehkan
telah kafir !
Jawab: Tidak boleh melemparkan lembaran bertuliskan nama Allah ke tempat
kotor (menjijikkan). Dan barang siapa melakukan hal itu dengan maksud
melecehkan (menghina) maka ia telah kafir.
Allah ta’ala berfirman:
- (قل أبالله وءاياته ورسوله كنتم تستهزءون لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم) (سورة التوبة : 65
(66
Maknanya: “Katakanlah wahai Muhammad (kepada mereka) Apakah terhadap Allah,
ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kalian berolok-olok (melecehkan), tidak usah kalian
meminta maaf, kalian benar-benar menjadi kafir setelah kalian beriman” (Q.S. at-
Taubah: 65-66)
Ibn Abidin berkata: “Telah kafir (keluar dari Islam) orang yang melempar mushhaf (al
Qur’an) ke tempat-tempat kotor (menjijikkan) sekalipun niatnya tidak bermaksud
melecehkan karena perbuatannya itu (sudah) menunjukkan pelecehan (penghinaan)”.
26. Apakah hukum nadzar ?
Jawab: Dibolehkan bernadzar dalam ketaatan kepada Allah, dan nadzar wajib
dipenuhi (dilaksanakan). Adapun nadzar dalam hal yang diharamkan maka
hukumnya tidak boleh dan tidak wajib dipenuhi. Allah berfirman:
( (يوفون بالنذر) (سورة الإنسان : 7
Maknanya: “Mereka (senantiasa) memenuhi nadzar” (Q.S. al Insan: 7)
Dalam hadits juga disebutkan:
“من نذر أن يطيع الله فليطعه ومن نذر أن يعصيه فلا يعصه” (رواه البخاري)
www.darulfatwa.org.au
Maknanya: “Barang siapa yang bernadzar untuk mentaati Allah maka haruslah ia taat
kepada-Nya, dan barang siapa bernadzar untuk bermaksiat kepada-Nya maka janganlah
ia bermaksiat kepada-Nya” (H.R. al Bukhari)
27. Sebutkan dalil bahwa suara perempuan itu bukan aurat !
Jawab: Allah ta’ala berfirman:
( (وقلن قولا معروفا) (سورة الأحزاب : 22
Maknanya: “Dan katakanlah (wahai para istri Nabi) perkataan yang baik” (Q.S. al
Ahzab: 22)
Al Ahnaf ibn Qais berkata: “Aku telah mendengar hadits dari mulut Abu Bakr, Umar,
Utsman dan Ali. Dan aku tidak pernah mendengar hadits sebagaimana aku
mendengarnya dari mulut ‘Aisyah” (H.R. al Hakim dalam kitab al Mustadrak)
28. Jelaskan mengenai sifat kalam Allah !
Jawab: Allah mempunyai sifat kalam yang tidak serupa dengan kalam kita. Sifat
kalam-Nya bukan berupa huruf, suara dan bahasa.
Allah ta’ala berfirman:
( (وكلم الله موسى تكليما) (سورة النساء : 164
Maknanya: “Dan Allah telah benar-benar memperdengarkan kalam-Nya kepada Musa”
(Q.S. an-Nisa: 164)
Imam Abu Hanifah dalam kitab al Fiqh al Absath mengatakan:
“ويتكلم لا ككلامنا ، ونحن نتكلم بالآلات والحروف والله تعالى يتكلم بلا ءالة ولا حروف”.
Maknanya: “Allah mempunyai sifat kalam yang tidak menyerupai pembicaraan kita,
kita berbicara menggunakan organ-organ pembicaraan dan huruf, sedangkan kalam
Allah tidaklah dengan organ-organ pembicaraan dan huruf”.
29. Apa makna firman Allah :
(الرحمن على العرش استوى) ؟
Jawab: Imam Malik berkata:
“استوى كما وصف نفسه ولا يقال كيف وكيف عنه مرفوع”
Maknanya: “Istawa sebagaimana Ia mensifati Dzat-Nya, tidak dikatakan (mengenai
istawa) bagaimana, dan sifat-sifat makhluk mustahil bagi-Nya”.
Al Kayf adalah sifat makhluk. Di antara sifat makhluk adalah duduk,
bersemayam dan menempati suatu tempat dan arah. Imam al Qusyairi berkata:
www.darulfatwa.org.au
“Istawa berarti hafizha, qahara dan abqa; memelihara, menundukkan dan menguasai,
serta menetapkan”.
Tidak boleh diyakini bahwa Allah duduk atau bersemayam di atas ‘arsy, karena
keyakinan seperti ini adalah aqidah orang-orang yahudi. Dan aqidah ini
merupakan pendustaan terhadap firman Allah:
( (فلا تضربوا لله الأمثال) (سورة النحل : 74
Maknanya: “Maka janganlah kalian mengadakan serupa-serupa bagi Allah” (Q.S. an-
Nahl: 74)
Allah ta’ala berfirman:
( (وبرزوا لله الواحد القهار) (سورة إبراهيم : 48
Maknanya: “Dan mereka berkumpul untuk dihisab oleh Allah yang Maha Esa lagi
Maha menundukkan dan menguasai” (Q.S. Ibrahim: 48)
Imam Ali ibn Abi Thalib -radhiyallahu ‘anhu- berkata:
“إن الله خلق العرش إظهارا لقدرته ولم يتخذه مكانا لذاته” (رواه أبو منصور البغدادي)
“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya, bukan
untuk dijadikan tempat bagi Dzat-Nya” (diriwayatkan oleh Abu Manshur al
Baghdadi)
30. Terangkan mengenai Qadar (takdir) !
Jawab: Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini; kebaikan, keburukan, ketaatan,
kemaksiatan, keimanan, kekufuran terjadi dengan takdir Allah, masyi-ah
(kehendak)-Nya dan diketahui oleh-Nya. Kebaikan, keimanan dan ketaatan
terjadi atas ketentuan Allah dan hal itu dicintai serta diridlai-Nya. Sedangkan
keburukan, kemaksiatan dan kekufuran juga terjadi dengan ketentuan Allah,
namun tidak dicintai dan tidak diridlai-Nya. Dan tidak boleh dikatakan takdir
Allah (sifat maha menentukan) yang merupakan sifat-Nya adalah buruk.
Allah ta’ala berfirman:
( (إنا كل شىء خلقناه بقدر) (سورة القمر : 49
Maknanya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran
(ketentuan)” (Q.S. al Qamar: 49)
Dalam hadits disebutkan:
“كل شىء بقدر حتى العجز والكيس” (رواه مسلم)
Maknanya: “Segala sesuatu terjadi dengan pengaturan (ketetapan Allah) sampai
tumpulnya otak dan kecerdasan” (H.R. Muslim)
31. Sebutkan dalil diharamkannya seorang laki-laki berjabat tangan dengan
perempuan yang bukan mahramnya !
www.darulfatwa.org.au
Jawab: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“لأن يطعن أحدكم بحديدة في رأسه خير له من أن يمس امرأة لا تحل له” (رواه الدارقطني)
Maknanya: “Jika salah seorang di antara kalian ditusuk kepalanya dengan sebuah besi,
itu lebih ringan baginya dari pada disiksa karena menyentuh seorang perempuan yang
tidak halal baginya” (H.R. ad-Daraquthni)
Dalam hadits lain beliau juga bersabda:
“وزنى اليد البطش” (رواه البخاري)
Maknanya: “Dan zina tangan adalah menyentuh” (H.R. al Bukhari)
32. Jelaskan tentang menbaca al Qur’an untuk mayit !
Jawab: Membaca al Qur’an untuk mayit muslim hukumnya boleh. Allah ta’ala
berfirman:
( (وافعلوا الخير) (سورة الحج : 77
Maknanya: “Dan lakukanlah kebaikan” (Q.S. al Hajj: 77)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“اقرءوا على موتاكم يس” (رواه ابن حبان وصححه)
Maknanya: “Bacalah untuk mayit-mayit kalian surat Yasin” (H.R. Ibnu Hibban dan
dishahihkannya)
Ahlussunnah sepakat dibolehkannya membaca al Qur’an untuk mayit
dan bahwa bacaan itu bermanfaat bagi si mayit. al Imam asy-Syafi’i berkata:
“Adalah kebaikan apabila dibacakan di atas kuburan mayit muslim beberapa
ayat al Qur’an dan lebih baik jika dibacakan al Qur’an seluruhnya” (dituturkan
oleh Imam an-Nawawi dalam Riyadlus-shalihin)
33. Sebutkan dalil bahwa shadaqah bisa memberikan manfaat terhadap mayit
!
Jawab: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية وعلم ينتفع به وولد صالح يدعو له” (رواه
ابن حبان)
Maknanya: ”Apabila seseorang meninggal dunia, terputuslah amal perbuatannya (yang
dapat terus mengalirkan pahala untuknya), kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang
bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya” (H.R. Ibnu Hibban)
Ketiga hal tersebut adalah di antara amal yang bisa dirasakan manfaatnya
oleh mayit muslim karena dialah penyebab terjadinya. Begitu juga firman Allah:
www.darulfatwa.org.au
( (وأن ليس للإنسان إلا ما سعى) (سورة النجم : 39
Yakni perbuatan baik yang ia lakukan sendiri, hal itu bermanfaat baginya. Dan
perbuatan baik yang dilakukan orang lain untuknya yang bukan perbuatannya
sendiri, hal ini juga bermanfaat baginya karena fadll (karunia dan kemurahan)
Allah ta’ala kepadanya. Sebagai misal adalah shalat jenazah, ia bukan amal
perbuatan yang dilakukan mayit, tapi mayit merasakan manfa’at dari shalat
tersebut. Dan juga seperti doa Rasulullah untuk orang lain. Doa itu bukan
perbuatan orang yang didoakan, namun doa tersebut bisa dirasakan
manfaatnya, seperti doa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam untuk Ibnu
‘Abbas:
“اللهم علمه الحكمة وتأويل الكتاب” (رواه البخاري)
Maknanya: “Ya Allah ajarilah ia hikmah dan (kemampuan untuk) mentakwil al
Qur’an” (H.R. Bukhari)
34. Sebutkan dalil dibolehkannya qiyam Ramadlan lebih dari 11 raka’at !
Jawab: Allah ta’ala berfirman:
( (وافعلوا الخير لعلكم تفلحون) (سورة الحج : 77
Maknanya: “Dan lakukan kebaikan supaya kalian beruntung” (Q.S. al Hajj: 77)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
“صلاة الليل مثنى مثنى ” (رواه البخاري)
Maknanya: “Shalat malam itu dilakukan dua raka’at dua raka’at” (H.R. Bukhari)
Beliau juga bersabda:
“الصلاة خير موضوع فمن شاء استقل ومن شاء استكثر” (رواه مسلم)
Maknanya: “Shalat adalah (termasuk) amal yang terbaik, maka barangsiapa
berkehendak, ia (boleh) menyedikitkan bilangan raka’atnya dan barangsiapa berkehendak,
ia (boleh) memperbanyak (bilangan raka’atnya) –yang dimaksud dalam hal ini adalah
shalat sunnah (nawafil) -” (H.R. Muslim)
35. Apa dalil dibolehkannya menggunakan rebana?
Jawab: Abu Dawud meriwayatkan bahwa ada seorang perempuan yang berkata
kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam (maknanya): “Sungguh aku telah
bernadzar untuk memukul rebana di depan engkau, jika Allah
mengembalikanmu dalam keadaan selamat”. Beliau menjawab: ”Jika engkau
telah bernadzar, maka penuhilah (laksanakan) nadzarmu !”.
www.darulfatwa.org.au
36. Siapakah nabi dan rasul pertama?
Jawab: Nabi dan rasul yang pertama adalah Adam ‘alayhissalam. Allah ta’ala
berfirman:
( (إن الله اصطفى آدم ) (سورة آل عمران : 33
Maknanya: “Sesungguhnya Allah ta’ala memilih Adam dan Nuh (sebagai nabi)…”
(Q.S. Ali Imran: 33)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda yang maknanya: “Adam dan nabinabi
yang lain di bawah benderaku pada hari kiamat” (H.R. at- Tirmidzi)
37. Sebutkan sifat-sifat yang pasti (wajib) berlaku bagi para nabi dan sifatsifat
yang mustahil ada pada mereka !
Jawab: Para nabi wajib (pasti) bersifat jujur, amanah (dapat dipercaya), sangat
cerdas, menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela, pemberani dan
fashih dalam berbicara. Mustahil bagi mereka berdusta, khiyanah (tidak dapat
dipercaya), berbuat tercela, zina dan dosa-dosa besar lainnya serta kekufuran,
baik sebelum diangkat menjadi nabi maupun setelahnya. Allah ta’ala berfirman:
( (وكلا فضلنا على العالمين) (سورة الأنعام : 86
Maknanya: “Dan masing-masing nabi itu kami lebihkan derajat mereka di atas umat
seluruhnya” (Q.S. al An’am: 86)
Dalam hadits disebutkan :
“ما بعث الله نبيا إلا حسن الوجه حسن الصوت” (رواه الترمذي)
Maknanya: “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali bagus rupanya dan indah
suaranya” (H.R. at-Tirmidzi)
38. Apakah makna firman Allah
؟ ( (لم يلد ولم يولد) (سورة الإخلاص : 3
Jawab : Bahwa Allah tidak berasal dari sesuatu (tidak diperanakkan) dan tidak
terlepas dari-Nya sesuatu (tidak beranak). Allah tidak menempati sesuatu, tidak
terlepas dari-Nya sesuatu dan tidak ditempati oleh sesuatu. Al Imam Ja’far ash-
Shadiq berkata: “Barang siapa beranggapan bahwa Allah di dalam sesuatu, dari sesuatu
atau di atas sesuatu, sungguh ia telah musyrik”. (diriwayatkan oleh Abu al Qasim al
Qusyairi dalam ar-Risalah al Qusyairiyyah)
www.darulfatwa.org.au
39. Sebutkan dalil dibolehkannya membaca shalawat atas nabi Muhammad
shallallahu ‘alayhi wasallam setelah adzan !
Jawab: Bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam setelah adzan adalah
boleh. Tidak perlu didengarkan pendapat orang yang mengharamkannya. Allah
ta’ala berfirman :
(إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما) (سورة
( الأحزاب : 56
Maknanya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi,
hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam
kepadanya” (Q.S. al Ahzab: 56)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“إذا سمعتم المؤذن فقولوا كما يقول ثم صلوا علي” (رواه مسلم)
Maknanya: “Apabila kalian mendengar muadzdzin (orang yang mengumandangkan
adzan), maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya kemudian bacalah shalawat
untukku” (H.R. Muslim)
Beliau juga bersabda:
“من ذكرني فليصل علي” (رواه الحافظ السخاوي)
Maknanya: “Barang siapa menyebutku maka hendaklah bershalawat untukku” (H.R. al
Hafizh as-Sakhawi)
40. Apakah pengertian riddah dan sebutkan macam-macamnya !
Jawab: Riddah adalah memutus keislaman (orangnya disebut murtad) dengan
kekufuran. Riddah terbagi tiga:
1. Riddah Qauliyyah (perkataan) seperti mencaci maki Allah, para nabi atau
Islam, walaupun dalam keadaan marah.
2. Riddah Fi’liyyah (perbuatan) seperti melempar mushhaf (al Qur’an) ke
tempat-tempat kotor dan juga seperti menginjak mushhaf.
3. Riddah Qalbiyyah (hati) seperti meyakini bahwa Allah adalah benda atau
roh, meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy atau menempati langit
atau meyakini bahwa Dzat Allah berada di semua tempat atau di suatu
arah.
Allah ta’ala berfirman:
( (ولقد قالوا كلمة الكفر وكفروا بعد إسلامهم) (سورة التوبة : 74
Maknanya: “Dan mereka telah benar-benar mengatakan perkataan kufur, mereka telah
kafir setelah keislaman mereka” (Q.S. at-Taubah: 74)
Ia juga berfirman:
www.darulfatwa.org.au
( (لا تسجدوا للشمس ولا للقمر) (سورة فصلت : 37
Maknanya: “Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan rembulan” (Q.S.
Fushshilat: 37)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“إن العبد ليتكلم بالكلمة ما يتبين فيها يهوي ا في النار أبعد مما بين المشرق والمغرب” (رواه البخاري
ومسلم)
Maknanya: “Sesungguhnya seorang hamba jika mengucapkan perkataan (yang
melecehkan atau menghina Allah atau syari’at-Nya) yang tidak dianggapnya bahaya,
(padahal perkataan tersebut) bisa menjerumuskannya ke (dasar) neraka (yang
kedalamannya) lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat” (H.R. al Bukhari dan
Muslim)
41. Sebutkan dalil dibolehkannya peringatan maulid Nabi shallallahu ‘alayhi
wasallam !
Jawab: Allah ta’ala berfirman:
( (وافعلوا الخير لعلكم تفلحون) (سورة الحج : 77
Maknanya: “Dan lakukanlah kebaikan supaya kalian beruntung” (Q.S. al Hajj : 77)
Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها” (رواه مسلم)
Maknanya: “Barang siapa memulai (merintis) dalam Islam perbuatan yang baik maka
(akan) memperoleh pahalanya” (H.R. Muslim)
42. Apakah yang dimaksud sabda Nabi :
“إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله ” ؟
Jawab: Bahwa yang lebih baik untuk dimohon dan dimintai pertolongan adalah
Allah. Hadits ini tidak bermakna: “Jangan memohon dan jangan meminta
pertolongan kepada selain Allah”. Hadits di atas serupa dengan hadits riwayat
Ibnu Hibban:
“لا تصاحب إلا مؤمنا ولا يأكل طعامك إلا تقي” (رواه ابن حبان)
Yang bermakna: “Yang paling layak untuk diberi makanan adalah orang
bertaqwa dan yang layak dijadikan kawan adalah seorang mukmin”. Hadits
tersebut tidak berarti haram memberi makan kepada selain orang mukmin dan
haram menjadikannya sebagai teman. Allah ta’ala memuji kaum muslimin di
dalam al Qur’an dengan firman-Nya:
www.darulfatwa.org.au
( (ويطعمون الطعام على حبه مسكينا ويتيما وأسيرا) (سورة الإنسان : 8
Maknanya: “Dan mereka memberikan makanan karena Allah kepada orang miskin, anak
yatim dan orang kafir yang ditawan” (Q.S. al Insan: 8)
Dalam shahih al Bukhari dan shahih Muslim diceritakan mengenai tiga orang
yang meminta kepada Allah dengan wasilah amal shalih mereka, sehingga Allah
memudahkan kesulitan mereka.
43. Sebutkan dalil dibolehkannya ziarah ke makam Rasulullah bagi laki-laki
dan perempuan !
Jawab: Disunnahkan berziarah ke makam Nabi dengan Ijma’ (kesepakatan para
ulama) sebagaimana dikutip oleh al Qadhi ‘Iyadh, an-Nawawi.
Allah ta’ala berfirman:
(ولو أم إذ ظلموا أنفسهم جاءوك فاستغفروا الله واستغفر لهم الرسول لوجدوا الله توابا رحيما)
( (سورة النساء : 64
Maknanya: “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menzhalimi diri mereka (berbuat
maksiat kepada Allah), kemudian datang kepadamu lalu memohon ampun kepada Allah,
dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah
maha penerima taubat lagi maha penyayang” (Q.S. an-Nisa’ : 64)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“من زار قبري وجبت له شفاعتي” (رواه الدارقطني وقواه الحافظ السبكي)
Maknanya: “Barang siapa berziarah ke makamku, maka pasti ia akan memperoleh
syafa’atku” (H.R. ad-Daraquthni dan dinilai kuat oleh al Hafizh as-Subki)
Sedangkan hadits:
“لا تشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد …”.
Maksudnya adalah barangsiapa berkeinginan melakukan perjalanan untuk
tujuan shalat di suatu masjid, hendaklah ia pergi ketiga masjid (masjid al Haram,
masjid an-Nabawi dan masjid al Aqsha), karena shalat di tiga masjid tersebut
pahalanya dilipatgandakan. Anjuran tersebut diartikan sebagai sunnah
hukumnya, bukan wajib. Jadi hadits tersebut khusus menerangkan tentang
melakukan perjalanan untuk tujuan shalat. Di dalamnya tidak ada keterangan
bahwa tidak boleh berziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam.
44. Sebutkan dalil dibolehkannya tabarruk (mengambil berkah atau mencari
tambahan kebaikan) !
Jawab: Bertabarruk dengan Nabi dan semua peninggalannya (atsar) adalah
boleh. Allah ta’ala berfirman mengenai ucapan nabi Yusuf ‘alayhissalam :
www.darulfatwa.org.au
( (اذهبوا بقميصي هذا فألقوه على وجه أبي يأت بصيرا) (سورة يوسف : 93
Maknanya: “Pergilah kamu dengan membawa gamisku ini, lalu letakkanlah kewajah
ayahku nanti ia akan melihat kembali” (Q.S. Yusuf: 93)
Dalam hadits disebutkan: “Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam
membagi-bagikan rambutnya kepada orang-orang supaya mereka bertabarruk
dengannya” (H.R. al Bukhari dan Muslim)
45. Apakah dalil dibolehkannya memakai hirz1 yang didalamnya hanya
tertulis al Qur’an dan semacamnya, dan tidak ada sama sekali di dalamnya
lafazh-lafazh tidak jelas yang diharamkan ?
Jawab: Allah ta’ala berfirman:
( (وننزل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين) (سورة الإسراء : 82
Maknanya: “Dan kami turunkan dari al Qur’an sesuatu yang di dalamnya terdapat
obat kesembuhan dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Q.S. al Isra’: 82)
Dalam hadits disebutkan bahwa ‘Abdullah ibn ‘Amr berkata: “Kami dulu
mengajarkan ayat-ayat al Qur’an kepada anak-anak kami, dan kepada anak yang belum
baligh kami menulisnya di atas kertas lalu menggantungkannya di atas dadanya” (H.R.
at-Tirmidzi)
46. Terangkan mengenai menyebut nama Allah (dzikrullah) ketika mengiringi
jenazah !
Jawab: Menyebut nama Allah (dzikrullah) ketika mengiringi jenazah hukumnya
boleh tanpa ada khilaf (perbedaan pendapat). Allah berfirman:
( (يا أيها الذين ءامنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا) (سورة الأحزاب : 41
Maknanya: “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (menyebut nama Allah)
dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya” (Q.S. al Ahzab: 41)
Allah ta’ala juga berfirman:
( (الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوم) (سورة ءال عمران : 191
Maknanya: “(Yaitu) … orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk
atau dalam keadaan berbaring” (Q.S. Ali Imran: 191)[
Dalam hadits diterangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam
berdzikir (menyebut nama Allah) dalam setiap situasi dan kondisi (H.R. Muslim)
1 Hirz adalah kertas yang berisikan tulisan ayat-ayat al Qur’an atau dzikir kemudian
dibungkus rapat dan dikalungkan di leher.
www.darulfatwa.org.au
47. Jelaskan tentang takwil !
Jawab: Takwil adalah memahami nash (al Qur’an dan Hadits) bukan secara
zhahirnya. Takwil diperbolehkan terhadap ayat-ayat dan hadits yang zhahirnya
mengundang pembaca untuk memahami makna yang rusak dan tidak benar
(padahal sesungguhnya makna ayat atau hadits tersebut tidak demikian), bahwa
Allah memiliki tangan (yang merupakan anggota badan), muka (yang
merupakan anggota badan) atau Ia duduk di atas ‘Arsy, menempati suatu arah
atau disifati dengan salah satu sifat makhluk. Allah berfirman:
( (وما يعلم تأويله إلا الله والراسخون في العلم) (سورة ءال عمران : 7
Maknanya: “Tidak ada yang mengetahui takwilnya (ayat-ayat mutasyabihat) kecuali
Allah dan orang-orang mendalam ilmunya” (Q.S. Ali Imran: 7)
Dalam hadits disebutkan bahwa Nabi berdoa untuk Ibn Abbas: “Ya Allah
ajarilah ia hikmah dan (kemampuan untuk) mentakwil al Qur’an” (H.R. al Bukhari,
Ibnu Majah dan al Hafizh Ibn al Jawzi)
48. Sebutkan dalil yang menerangkan bahwa iman adalah syarat diterimanya
amal shalih !
Jawab: Allah berfirman:
(ومن يعمل من الصالحات من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فأولئك يدخلون الجنة ولا يظلمون نقيرا)
( (سورة النساء : 124
Maknanya: “Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun
perempuan sedang ia orang beriman (artinya ini adalah syarat), maka mereka itu akan
masuk surga dan mereka tidak dianiaya sama sekali” (Q.S. an-Nisa: 124)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“أفضل الأعمال إيمان بالله ورسوله” (رواه البخاري)
Maknanya: “Perbuatan yang paling utama (secara mutlak) adalah beriman kepada
Allah dan rasul-Nya” (H.R. al Bukhari)
49. Apakah makna firman Allah :
(كل شىء هالك إلا وجهه) ؟
Jawab: al Imam al Bukhari berkata: ( إلا وجهه ) “kecuali sulthan (tasharruf –
kekuasaan-) Allah”. Al Imam Sufyan ats-Tsauri mengatakan: “…Kecuali amal
shaleh yang dilakukan hanya untuk mengharap ridla Allah”.
www.darulfatwa.org.au
50. Apakah makna firman Allah :
؟ ( (ءأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض) (سورة الملك : 16
Jawab: Pakar tafsir, al Fakhr ar-Razi dalam tafsirnya dan Abu Hayyan al
Andalusi dalam tafsir al Bahr al Muhith mengatakan: “Yang dimaksud من في السماء
dalam ayat tersebut adalah malaikat”. Ayat tersebut tidak bermakna bahwa
Allah bertempat di langit.
51. Apakah makna firman Allah ta’ala :
( (والسماء بنيناها بأيد وإنا لموسعون) (سورة الذاريات : 47
Jawab: Ibnu Abbas mengatakan: “Yang dimaksud بأيد adalah “dengan
kekuasaan”, bukan maksudnya tangan yang merupakan anggota badan (jarihah)
kita, karena Allah maha suci darinya.
www.darulfatwa.org.au
Al Imam asy-Syafi’i berkata:
“لا يجوز على الله التغير في ذاته ولا التبدل في صفاته”.
(ذكره الحافظ الزبيدي في كتاب إتحاف السادة المتقين)
“Mustahil berlaku perubahan pada Dzat Allah dan Mustahil berlaku pergantian pada
sifat-sifat-Nya” (Disebutkan oleh al Hafizh az-Zabidi dalam kitab Ithaf as-Saadah al
Muttaqin)
Diriwayatkan dengan sanad yang kuat bahwa Imam Malik berkata
tentang istiwa’ Allah:
” استوى كما وصف نفسه ولا يقال كيف وكيف عنه مرفوع “.
“Allah istawa sebagaimana Ia mensifat Dzat-Nya, tidak dikatakan Kayfa (bagaimana
istawa-Nya) dan Kayfa ( bagaimana; sifat-sifat benda) itu mustahil bagi Allah”.
Al Imam Abu Hanifah dalam sebagian risalahnya tentang ilmu kalam
mengatakan:
” أنى يشبه الخالق مخلوقه “
“Mustahil Allah menyerupai makhluk-Nya”.
Maknanya tidak sah secara akal dan naql bahwa pencipta menyerupai ciptaan-
Nya.
Al Imam Ahmad ibn Hanbal dan al Imam Dzu an-Nun al Mishri (W. 245
H) salah seorang murid terkemuka al Imam Malik mengatakan:
“مهما تصورت ببالك فالله بخلاف ذلك”
Maknanya: “Apapun yang terlintas dalam benak kamu (tentang Allah), maka Allah
tidak seperti itu”.
Maknanya bahwa Allah bukan sesuatu yang bisa dibayangkan dalam benak,
karena setiap yang terbayang dalam benak adalah makhluk. Jadi Allah maha
suci dari berupa benda, maha suci dari tempat, bentuk, gambar, duduk, berubah
dan bersemayam.

Posted by: amrandazmind | April 22, 2008

SIFAT MA’ANI DAN MA’NAWIYAH TUHAN

Dalam Al-Qur`an dan Alkitab (Matius 21:23-27) dijelaskan bahwa kuasa Yesus adalah berasal dari ALLAH, bukan dari dirinya sendiri.

TUHAN ITU MAHABERKUASA DAN MENGUASAI. Kekuasaan Tuhan bukanlah pemberian dari yang lain. Sedangkan makhluq tidak berkuasa. Makhluq sifatnya lemah, lumpuh, tidak bisa berbuat apa-apa, maka makhluq tidak berbuat apa-apa. Yang Berbuat hanyalah Allah. Tetapi ingat, Allah Maha Tahu, Maha Adil, Maha Bjaksana. Sedangkan manusia sangat bodoh dan zhalim. Apa yang diketahui manusia sangat sedikit jika dibandingkan dengan apa yang tidak diketahui oleh manusia. Maka tidak pantas manusia menyombongkan dirinya yang lemah. Sungguh tiada daya untuk menghindari kejahatan dan tiada kekuatan untuk berbuat kebajikan kecuali dengan Kasih-Sayang dan Kuasa Allah. Dalam Al-Qur`an dan Alkitab (Matius 21:23-27) dijelaskan bahwa kuasa Yesus adalah berasal dari ALLAH, bukan dari dirinya sendiri.

Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. [QS. Al-Baqarah (2): 20]

Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan. [QS. Ya Sin (36): 83]

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu`jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” [Q.S. Ali ‘Imran: 49]

Pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan dengan nama Bapa, itulah yang memberikan kesaksian tentang aku (bahwa aku adalah seorang rasul). [Yohanes 10:25]

Dan Ia (ALLAH) telah memberikan kuasa kepadanya (kepada Yesus) [Yoh. 5:27]

Yesus berkata: Anak tidak mengerjakan sesuatu dari dirinya sendiri. Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki Bapa. [Yoh. 5: 19, 21]

Yesus berkata: Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri. [Yoh. 5: 30]

Yesus berkata: “Kepadaku telah diberikan segala kuasa…” [Mat. 28:18]

TUHAN ITU MAHABERKEHENDAK DAN BERBUAT SEPERTI APA YANG DIA KEHENDAKI, bukan seperti yang dikehendaki oleh pihak lain. Allah Yang Berkehendak. Apa yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi. Jika Ia Menghendaki sesuatu, maka ia cukup berfirman, “Kun (Jadi),” maka terjadilah (lihat Yaa Siin ayat 82). Dan Allah adalah Yang Baik. Yang dikehendaki oleh Allah adalah kebaikan. Tetapi kebodohan manusia tidak dapat menembus Hikmah Al Hakam.

Setiap peristiwa itu berhubungan dengan waktu. Jika Allah Berkalam, “Kun” pada setiap peristiwa dan waktu berarti Allah terperangkap pada waktu? Tidak, tidak demikian. Allah Berkalam, “Kun” dan semua peristiwa dari awal hingga akhir di alam semesta tercipta. Tetapi manusia merasakan tiap frame dari kehidupan secara bergantian sehingga mereka merasa bahwa waktu itu ada. Padahal waktu, sebagaimana materi, hanyalah imajinasi.

Anda mungkin pernah bermimpi yang mana dalam mimpi tersebut Anda merasa menjalaninya dengan sangat lama. Tetapi sewaktu Anda terbangun, ternyata Anda hanya tertidur selama beberapa puluh menit. Apa yang Anda rasakan sebagai waktu ternyata hanyalah imajinasi.

Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. [QS. Al-Buruj (85): 16]

Yesus berkata: “Aku tidak menuruti kehendakku sendiri, akan tetapi aku menuruti kehendak Dia yang mengutus aku.” [Yohanes 5:30]

Aku datang bukan atas kehendakku sendiri, akan tetapi atas kehendak Dia yang mengutus aku. [Yoh. 8:42]

Maka jelaslah bahwa Yesus dikuasai oleh kehendak dan kuasa ALLAH. Yesus tidak berkuasa atas dirinya sendiri. Bagaimana mungkin Tuhan dikuasai? Maka Yesus bukanlah Allah, dia bukanlah Tuhan. Yesus hanyalah utusan Tuhan.

TUHAN ITU MAHATAHU DAN DIA MENGETAHUI. Allah Mengetahui segala sesuatu, walupun sesuatu itu, menurut kita, belum terjadi. Allah Mengetahui apa yang tersembunyi dan apa yang tersingkap. Sedangkan Yesus tidak Mahatahu.

Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [QS. Al-Hujurat: 16]

(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang saat itu (hari akhir), kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (kepada saat itu, hari berbangkit). Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. [QS. An-Nazi’at (79): 42-46]

Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan anak pun tidak, hanya Bapa sendiri. [Matius 24:36]

TUHAN ITU HIDUP. Hidup Tuhan tidak berasal dari siapa pun, melainkan Tuhan Hidup dengan Sendiri-Nya. Dan mustahil Tuhan itu mati.

Dan serahkan dirimu (tawakkal) kepada Yang Hidup Dzat Yang tidak mati, [QS. Al-Furqan (25): 58]

Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam Diri-Nya, demikian juga diberikan-Nya anak mempunyai hidup dalam dirinya. [Yoh. 5:26]

TUHAN ITU MAHAMENDENGAR DAN TUHAN ITU MENDENGARKAN. Dia mendengar dan mengabulkan doa yang ditujukan kepadaNya. Adapun mengenai pengabulan doa, adakalanya Allah kabulkan seperti apa yang kita kehendaki, adakalanya Allah kabulkan seperti apa yang Allah kehendaki, dan itu baik bagi si pendoa, dan adakalanya Allah tangguhkan doanya itu dan diganti dengan yang lebih baik di akhirat kelak. Jadi doa itu bukanlah untuk meminta apa yang kita kehendaki. Tetapi untuk menyampaikan keinginan kita. Dan Allah menyukai hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya. Dengan kesukaan-Nya itu, maka Allah berikan yang terbaik bagi si hamba. Jika apa yang dikehendaki si hamba itu memang baik, maka Allah kabulkanlah seperti yang dikehendaki. Jika yang dikehendaki si hamba itu berakibat buruk, atau kurang baik, maka Allah berikan yang lebih baik dari apa yang dikehendaki si hamba. Dan jika dikabulkan di dunia ini seperti yang diinginkan si hamba itu buruk, maka Allah menangguhkannya dan menggantinya dengan yang lebih baik, yaitu dengan ampunan dan kasih-sayang-Nya di akhirat kelak. Tetapi ada kalanya, seseorang itu berdoa, dan itu dapat berakibat buruk baginya, lalu Allah mengabulkannya sehingga ia semakin jauh dari Allah. Maka yang demikian itu adalah istidraj. Allah membiarkan dia terlena dalam keni’matan, sehingga di hari kiamat, Allah dapat menyiksanya dengan siksa yang pedih diakibatkan kekufurannya.

Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui [QS. Al-Baqarah (2): 256]

Yesus berdoa: “Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaku, tetapi janganlah seperti yang kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” [Mat. 26:39]

Bahkan Yesus berdoa semalaman dengan penuh kesungguhan agar diselamatkan dari penyaliban. Dan dia menyerahkan kepada Allah, apa yang terbaik baginya. Sebab Allah Mahamengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya yang Dia sayangi. Dari sini, apakah Anda mau berkata bahwa Yesus bersedia disalib? Tidak, Yesus tidak bersedia disalib. Tidak ada yang namanya ‘penyelamatan melalui penyaliban Yesus’. Yesus diutus bukan untuk disalib, tetapi untuk menyelamatkan Israel dari kebinasaan dengan mengajarkan aqidah dan cara hidup (syariat) yang diridhoi Tuhan. Penyaliban Yesus bukanlah perintah Tuhan. Jika itu perintah Tuhan, mengapa Yesus enggan disalib. Sedangkan Abraham dan anaknya pun bersedia menjalankan perintah Tuhan. Penyaliban Yesus itu adalah buah kedengkian imam-imam Yahudi. Supaya tidak dipersalahkan, mereka buatlah doktrin yang aneh ini melalui mulut Paulus yang penuh dengan dusta.

TUHAN ITU MAHAMELIHAT DAN DIA MELIHAT. Tidak mungkin Tuhan tidak dapat melihat dan tidak mungkin Tuhan tidak melihat. Allah melihat setiap kejadian yang ada di dunia ini.

Dan Allah Mahamelihat apa yang kamu perbuat. [QS. Al-Hujurat (49) : 18]

TUHAN ITU MAHABERKALAM DAN DIA BERKALAM. Mustahil Allah bisu dan tidak berfirman. Tanpa Kalam Tuhan, mustahil alam ini menjadi ada. Alam ini menjadi ada karena Tuhan berfirman, “Kun”, jadilah.

Dan berkata Allah Ta’ala kepada Musa dengan sebenar-benarnya Berkata. [An Nisa` (4) : 164]

Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. [QS. Al-Mu`min (40): 68]

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. [QS. Ya Sin (36): 82]

Oleh Firman Tuhan langit dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentara-Nya. [Mazmur 33:6]

Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi, Dia memberi perintah, maka semuanya ada. [Mazmur 33:9]

Berfirmanlah Allah: “Jadilah…” [Kej. 1:3,6,9,11,14,20,24,26]

Posted by: amrandazmind | April 22, 2008

SIFAT SALBIYAH TUHAN

Setelah kita mengetahui bahwa Tuhan bersifat Wujud, sekarang kita akan membahas sifat Salbiyah Tuhan, yaitu sifat yang menolak hal-hal yang tidak layak ada pada Tuhan.

TUHAN HARUSLAH YANG TERDAHULU. Tuhan tidak didahului oleh ketiadaan. Sesuatu yang diawali dengan ketiadaan berarti sifat aslinya adalah tiada. Sedangkan kita sudah sepakat bahwa Tuhan itu sifat aslinya adalah ‘Ada’. Dia Ada karena Dia memang Ada, jika diawali ketiadaan, kemudian menjadi Ada, lalu siapa yang membuat dia menjadi ‘Ada’? Maka yang membuat menjadi ‘ada’ itulah Tuhan, dan Tuhan tidak mungkin diadakan. Tuhan haruslah Terdahhulu.

Maka tidak pantas kita menyembah sesuatu yang didahului oleh ketiadaan. Astrofisikawan terkenal, Hugh Ross menuturkan, “Jika permulaan waktu bersamaan dengan awal keberadaan alam semesta, seperti dijelaskan teorema-angkasa, maka penyebab alam semesta harus merupakan kesatuan yang berfungsi dalam suatu dimensi waktu yang sepenuhnya terpisah, dan sudah ada sebelumnya. Kesimpulan ini sangat penting untuk pemahaman kita tentang Siapa Yang Tuhan dan siapa/apa yang bukan Tuhan. Rabb bukanlah alam semesta (makhluq) itu sendiri dan tidak terkandung dalam alam semesta (baik ruang maupun waktu).”

Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. [QS. Al-Ikhlash (112): 3]

Dia Yang Awwal dan Yang Akhir. [QS. Al-Hadid (57) : 3]

Akulah Yang Awal dan Akulah Yang Akhir, tidak ada Allah selain daripada-Ku. [Yesaya 44: 6]

TUHAN HARUSLAH KEKAL, TIDAK MUNGKIN TUHAN ITU SEMENTARA. Allah Ada, Allah adalah Yang Akhir, ketika semua makhluq telah binasa, Allah tetap Ada. Allah tidak mengalami sakit, tidak mengantuk, tidak tidur, tidak lelah, apalagi binasa.

Dan kekal Dzat Allah Yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan [Ar-Rahman (55): 27]

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. [QS. Al-Baqarah (2): 255]

Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. [Yesaya 40:28]

Maka tidak pantas kita menyembah sesuatu yang mengalami sakit, lelah, apalagi binasa. Dalam Alkitab dikatakan:

Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih disebabkan perjalanan, sebab itu ia duduk di pinggir sumur itu. [Yohanes 4: 6]

Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditelan gelombang, tetapi Yesus tidur. [Matius 8: 24]

Disebabkan alam semesta -termasuk kita- tidak kekal, maka sudah semestinya kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian dan hari berbangkit.

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-A’raf: 56)

Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (Q.S. An-Naazi’aat: 34-41)

Untuk memahami tentang semunya alam semesta dan relativitas waktu, kami jelaskan sedikit disini bahwa alam semesta itu seperti mimpi. Materi hanyalah imajinasi. Sewaktu kita bermimpi, kita merasa bahwa kita berjalan, bergerak, menyentuh sesuatu, merasakan sesuatu, mendengar sesuatu; padahal itu hanyalah imajinasi. Tetapi imajinasi yang kita rasakan dalam ‘alam nyata’ adalah tanda dari apa yang akan kita alami di alam berikutnya. Apakah kita akan ‘terbangun dari mimpi’ kemudian merasakan ‘mimpi’ indah, atau kita ‘terbangun dari mimpi’ kemudian merasakan ‘mimpi’ buruk.

Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya). Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. Yaa Siin: 51-54)

Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. (Q.S. An-Naazi’aat: 46)

Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari”. Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Q.S. Al-Baqarah: 259)

Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (Q.S. Al-mu`minun: 112-114)

Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (Q.S. Al-Hajj: 47)

Mungkin Anda pernah melihat film flora tentang pertumbuhan sebuah benih. Anda melihat benih itu tumbuh hanya dalam beberapa detik saja hingga ia menjadi tumbuhan dewasa. Padahal kenyataannya untuk tumbuh menjadi tumbuhan dewasa diperlukan waktu berminggu-minggu. Ketahuilah bahwa apa yang Anda lihat dalam film itu adalah peristiwa yang dipercepat. Tetapi si film -seandainya ia dapat merasa seperti manusia- tidak merasa bahwa ia sedang menjalani percepatan. Ia merasa normal. Ia merasakan tiap frame dengan normal. Ia merasakan siang dan malam silih berganti dengan normal. Tetapi itu adalah perhitungan si film. Sedangkan bagi kita siang dan malam -mulai dari benih hingga menjadi tumbuhan dewasa- pada si film terjadi hanya dalam waktu beberapa detik. Ternyata perhitungan si film terhadap dirinya berbeda dengan perhitungan kita terhadap si film.

TUHAN HARUSLAH BERBEDA DENGAN ALAM SEMESTA. Tidak mungkin Tuhan itu sama dengan ciptaan-Nya. Allah Mahakuasa, sedang makhluk adalah lemah, namun Allah yang memberi mereka kekuasaan.

Tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. [QS. Al-Ikhlash (112): 4]

Tiada yang serupa dengan Dia sesuatu pun. [QS. Asy-Syura (42): 11]

Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. [Yesaya 40: 29]

Siapakah seperti Aku? [Yesaya 44:7]

TUHAN TIDAK BUTUH KEPADA YANG LAIN. Tuhan tidak butuh makan, tidak lapar, tidak haus, tidak butuh air, tidak butuh udara, tidak butuh alam semesta. Ketakwaan dan kejahatan kita tidak berpengaruh kepada Kekuasaan dan Kerajaan Allah.

Sesungguhnya Allah Yang Kaya tidak butuh kepada alam semesta. [QS. Al-Ankabut (29): 6]

Maka tidak pantas jika kita menyembah sesuatu yang faqir. Tidak pantas kita menyembah sesuatu yang membutuhkan makanan dari Allah.

Pada pagi hari dalam perjalanannya ke kota, Yesus merasa lapar. Dekat jalan ia melihat pohon Ara, lalu pergi ke situ, tetapi ia tidak menemukan apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. [Matius 21: 18-19]

Ayat Alkitab di atas menunjukkan bahwa Isa itu hanyalah manusia biasa yang merasakan lapar, dan beliau tidak tahu, kapan musim buah Ara. Faqir (membutuhkan sesuatu yang selain dirinya) dan tidak tahu bukanlah sifat Tuhan.

TUHAN ITU ESA, TUNGGAL. Tidak mungkin Tuhan itu berbilang atau terpisah-pisah. Tidak mungkin sebagian dari Tuhan ada di sorga dan sebagian lagi ada di bumi.

Katakanlah wahai Muhammad: Allah itu Esa. [QS. Al-Ikhlash: 1]

Yesus menjawab, “Hukum yang terutama adalah ‘Dengarlah wahai orang Israel, TUHAN Allah kita, TUHAN itu Esa.’” [Mrk. 12 : 29]

Sepanjang Perjanjian Baru, Yesus selalu berkata bahwa Tuhan itu Tunggal, tidak pernah Yesus berkata bahwa Tuhan itu Tritunggal. Bahkan dalam Perjanjian Lama pun, orang-orang Yahudi itu percaya bahwa Tuhan itu Tunggal, bukan Tritunggal.

Posted by: amrandazmind | April 22, 2008

Mengenal Tuhan

Tuhan telah menganugerahkan kita dengan akal budi sehingga kita dapat membedakan antara yang haq (yang benar) dengan yang bathil (yang tidak benar). Sebagaimana bapak kita Ibrahim telah dapat mengetahui mana Tuhan yang benar dan mana yang bukan Tuhan.
Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. [QS. Al-An’am (6): 74-79]

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, yang telah mengaruniakan kita akal dan memperkenalkan Diri-Nya kepada kita melalui para Nabi suci utusan Allah dan melalui firman-firman-Nya baik yang tertulis maupun yang berupa alam semesta dari ujung ke ujung. Dengan akal dan Kitab Suci Al-Qur`an, maka dapatlah kita membedakan dan mengenali, siapa Tuhan yang benar dan siapa atau apa yang bukan Tuhan. Sebagai manusia yang berakal, maka dapatlah kita mengetahui Siapa yang layak disebut Tuhan.

PERTAMA, Tuhan haruslah Ada, mustahil Tuhan itu bersifat tidak ada. Sesuatu bisa disebut Ada, kalau ia ada dengan sendirinya. Sebab ‘Ada’ adalah kata aktif, bukan pasif. Jadi segala sesuatu yang ‘diadakan’ maka dia bukanlah Tuhan, sebab sifatnya ‘diadakan’, bukan ‘Ada’. Umpamanya ada orang lumpuh, dia dibantu dan digerakkan atau diposisikan sehingga ia berada pada posisi duduk. Maka sebenarnya ia tidak duduk akan tetapi didudukkan. Ketika ia ditopang oleh orang lain sehingga berada pada posisi berdiri, sebenarnya ia tidak berdiri, melainkan didirikan. Tuhan tidak diadakan. Tuhan itu Ada tanpa diadakan.

Allah Yang Menciptakan langit dan bumi serta yang berada diantara keduanya. [QS. As-Sajdah (32): 4]

Tidak pantas jika kita menyembah sesuatu yang diciptakan. Tidak pantas jika manusia menyembah Isa as., Uzair as, patung, Fir’aun, pohon, dewa-dewa, jin, malaikat, dsb. Sebab mereka semua diciptakan. Sesuatu yang diciptakan bukanlah Tuhan. Justeru Tuhan itulah yang mencipta segala yang ada. Allah berfirman dalam Al Qur`an surah Al-Anbiya` ayat 30 yang artinya:

Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan kabut. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. [Fushshilat: 11-12]

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? [Al-Anbiya`: 30]

Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. [Adz-Dzariyat: 47]

Bahwa pada mula pertama dijadikan Allah akan langit dan bumi. Maka bumi itu lagi campur baur adanya, yaitu suatu hal yang ketutupan kelam kabut; maka Roh Allah berlayang-layang di atas muka air itu. [Kejadian 1:1-2 TL]

Pada tahun 1929, A.E. Hubble seorang astronom berkebangsaan Amerika menghadirkan sebuah penemuan besar. Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia mendapati cahaya dari bintang-bintang itu berubah ujung spektrumnya menjadi merah. Hal ini berarti, bintang tersebut menjauh dari tempat observasi. Artinya bintang menjauhi bumi secara tetap. Sebelumnya ia juga mendapati bahwa galaksi-galaksi dan bintang-bintang bergerak saling menjauh satu dengan yang lainnya. Ini menjelaskan bahwa ternyata alam semesta meluas, “Tidak statis sebagaimana diklaim oleh kaum atheis. Alam semesta yang meluas ini menunjukkan bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur dalam hal waktu, maka didapati bahwa alam semesta berasal dari ‘titik tunggal’. Perhitungan menunjukkan bahwa titik tunggal ini, mengandung pengertian semua zat atau materi yang ada di alam semesta, mempunyai ‘volume nol’ dan ‘kerapatan tak terbatas’. Alam semesta tercipta melalui ledakan titik tunggal yang bervolume nol ini. Ledakan luar biasa dahsyatnya yang disebut Ledakan Dahsyat (Big Bang) ini menandai dimulainya alam semesta. Adapun yang dimaksud dengan ‘volume nol’ adalah ketiadaan.”

Ini adalah bukti bahwa agama Islam bukanlah takhyul. Sebab keyaqinan bahwa alam semesta itu diciptakan oleh Allah dapat dijelaskan secara ilmiah. Justeru teori yang mengatakan bahwa alam semesta ini tidak diciptakan itulah yang merupakan kepercayaan takhyul yang tidak logis, tidak masuk aqal, tidak ilmiah, jahil, sesat. Jika tidak diatur oleh Allah, mana mungkin sebuah ledakan dahsyat dapat menghasilkan tatanan yang teratur seperti yang kita lihat pada alam semesta. Sebagaimana kita ketahui, setiap ledakan itu hanya menghasilkan kekacau-balauan. Tidak mungkin ledakan dinamit menghasilkan bangunan megah yang kokoh dan indah. Tanpa Kekuasaan Allah, tentu zat-zat itu akan berhamburan tanpa kontrol. Tetapi pada kenyataannya, setelah peristiwa Big Bang, zat-zat itu bergerak dengan kecepatan dan arah yang sangat terkendali. Tentu saja Allah Yang telah menahan zat-zat tersebut agar tidak berhamburan tanpa kendali.

Maka patut bagi kita untuk berdzikir/ingat kepada Allah pada tiap-tiap yang maujud. Dzikir itu dapat dilakukan dengan banyak cara, misalnya dengan menyebut Asma Allah atau memujiNya dengan lisan dan juga meyaqini dengan hati; bisa juga dengan mengingat ni’mat yang telah Allah berikan; berfikir tentang keindahan dan keteraturan yang ada pada ciptaan Allah termasuk diri sendiri; mengambil pelajaran dari tokoh-tokoh terdahulu; mengambil pelajaran dari musibah dan peristiwa; dsb.

(Selanjutnya silahkan lihat artikel Sifat Salbiyah)

Sumber: Sifat Dua Puluh oleh Habib Utsman ibnu Yahya

Posted by: amrandazmind | April 7, 2008

LAA ILAAHA ILLALLAAH

Tiada yang pantas disembah kecuali Allah
Ia menciptakan pohon dan tumbuhan
Ia menciptakan lebah dan burung-burung
Ia menciptakan laut dan samudra
Sebagian dari kemurahan-Nya
Ia menjadikan kita khalifah di atas bumi
Untuk mematuhi segala keputusan-Nya
Yaa Allah kasihanilah kami,
Bersihkanlah penyakit hati kami

Dimuliakanlah Allah di dalam kewibawaan-Nya
Tiada bagi kita Tuhan selain Dia
Dialah Yang Awal sebelum keberadaan
Dialah Yang Akhir setelah keabadian
Kemutlakan-Nya di atas segala batas
Wajib kepada-Nya kita bersujud
Tuhan yang menganugerahkan kehidupan
Dia menjadikan angin dan gelombang air
Berkat-Nya sungguh melimpah
Jayalah yang Ia pandu

Ia memberikan kita siang dan malam
Ia memberikan kita indera penglihatan
Ia menciptakan matahari yang begitu terang
Dan bulan yang begitu putih dan murni

Ia menyelamatkan kita dari keadaan kita
Ia memimpin kita ke arah cahaya
Ia memimpin kita ke jalan lurus
Melalui kemurahan–Nya dan kuasa-Nya

Tuhan bumi dan langit
Tuhan pegunungan yang begitu tinggi
Tuhan yang menguasai siang dan malam
Tuhan dari kegembiraan dan kesenangan

Laa ilaaha illallaah

Lyric The Creator

Posted by: amrandazmind | April 5, 2008

Bid’ah

I. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.

Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal-hal yg baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst, “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”, maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam.

Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yg bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa-apa yg sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yg membuat buat hal baru yg berupa keburukan…dst”, inilah yg disebut Bid’ah Dhalalah. Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yg baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yg ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yg buruk (Bid’ah dhalalah).

Mengenai pendapat yg mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yg dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas-jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.

II. Siapakah yg pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?
Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).

Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yg baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah-pisah di hafalan sahabat, ada yg tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yg memulainya.

Kita perhatikan hadits yg dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yg membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan-akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yg berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yg mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati-hatilah dengan hal-hal yg baru, sungguh semua yg Bid’ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).

Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yg baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yg baru, yg tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.

Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik-baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu. Demikian pula hal yg dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bn Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873).

Siapakah yg salah dan tertuduh?, siapakah yg lebih mengerti larangan Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?

III. Bid’ah Dhalalah
Jelaslah sudah bahwa mereka yg menolak bid’ah hasanah inilah yg termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin, nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa’urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas-jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal inilah yg merupakan Bid’ah dhalalah, hal yg telah diperingatkan oleh Rasul saw.

Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.

Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya, tak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw. Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah. Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah. Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya.

Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam ? Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul saw yg telah membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yg berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal-hal baru yg berupa keburukan (Bid’ah dhalalah).

Saudara-saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur’an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”.

Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua”.

Maka kuhimbau saudara-saudaraku muslimin yg kumuliakan, hati yg jernih menerima hal-hal baru yg baik adalah hati yg sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yg dijernihkan Allah swt, Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yg maksudnya berpeganglah erat-erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.

Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin.

IV. Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah
1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii)
Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yg sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yg tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)

2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
“Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi : “seburuk-buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yg dimaksud adalah hal-hal yg tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yg baik dan bid’ah yg sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)

3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
“Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat-buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yg baru adalah Bid’ah, dan semua yg Bid’ah adalah sesat”, sungguh yg dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid’ah yg tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)

Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yg wajib, Bid’ah yg mandub, bid’ah yg mubah, bid’ah yg makruh dan bid’ah yg haram. Bid’ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil-dalil pada ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid’ah yg mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam-macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)

4. Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah
Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yg Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).

Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yg bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati-hati darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yg disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yg tak punya sanad, hanya menukil-menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa-fatwa para Imam? (Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa)

Posted by: amrandazmind | April 3, 2008

Sejarah Wahhabi

Menanggapi banyaknya permintaan pembaca tentang sejarah berdirinya Wahabi maka kami berusaha memenuhi permintaan itu sesuai dengan asal usul dan sejarah perkembangannya semaksimal mungkin berdasarkan berbagai sumber dan rujukan kitab-kitab yang dapat dipertanggung-jawabkan, diantaranya, Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, I’tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lain-lain. Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.

Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa’iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i, menulis surat berisi nasehat: “Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’zham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.”

Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman : “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS: An-Nisa 115)

Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jama’ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.

Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, “Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?” Dengan segera dia menjawab, “Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan” Lelaki itu bertanya lagi “Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu persen pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim.” Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.

Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.

Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata : “Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.

Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi’i yang sudah mapan.

Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma’la (Mekkah), di Baqi’ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan.

Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.

Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.

“Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, “Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.” (Mirip Masonic bukan?)

Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.

Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid’ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.

Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).

Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi). Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid’ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid’ah” Karena nama negeri Rasulullah SAW diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa’ud.

Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: “Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,” sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)

“Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).” (HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban

Nabi SAW pernah berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” dan pada yang ketiga kalinya beliau SAW bersabda: “Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan.” Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.

Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: “Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah SAW itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian.” Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala’uzh Zholam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi SAW: “Akan keluar di abad kedua belas (setelah hijrah) nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin” AI-Hadits.

BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi SAW yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab. Pendiri ajaran wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M.

Diambil dari rubrik Bayan, majalah bulanan Cahaya Nabawiy No. 33 Th. III Sya’ban 1426 H / September 2005 M

Posted by: amrandazmind | April 1, 2008

Obat Segala Macam Penyakit

Mengapa kita sakit? Setidaknya ada 2 kemungkinan mengapa kita sakit. Pertama, mungkin karena kita banyak melakukan dosa. Kedua, karena kita kurang beribadah.

Dosa adalah Bibit Penyakit

Rasulullah pernah bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan tentang penyakitmu dan penawarnya? Camkanlah, bahwa penyakitmu ialah dosa, dan penawarnya ialah istighfar (memohon ampun kepada Allah).”

Rasulullah menjelaskan bahwa bibit dari segala penyakit adalah dosa. Sehingga obat penawar dari segala penyakit adalah istighfar. Sebenarnya segala kuman dan zat-zat berbahaya telah ada pada tubuh kita sejak kecil. Namun, tubuh dari jiwa yang bersih akan sanggup untuk mengatasinya. Tubuh akan kehilangan sebagian kemampuannya ketika seseorang berbuat dosa.

Ketika seseorang berbuat dosa, maka rusaklah qolbunya dengan satu titik gelap. Kerusakan ini juga mengakibatkan kerusakan pada bagian-bagian tubuh sebagaimana sabda Nabi SAW bahwa jika hati rusak, maka rusaklah jasad. Dengan kerusakan pada suatu organ, ketidak-seimbangan hormon, atau kerusakan lainnya, maka tubuh kita tidak dapat mengatasi bahaya dari suatu zat atau bakteri yang ada pada tubuh kita. Maka timbullah penyakit.

Istighfar akan menghapus dosa dan memperbaiki hati. Maka beruntunglah dengan keuntungan dunia dan akhirat bagi mereka yang selalu membersihkan jiwa. Qolbu yang membaik akan mengembalikan kondisi dan fungsi dari bagian-bagian tubuh.

Para peneliti hado (barokah mungkin berkaitan dengan hado positif) menjelaskan bahwa seseorang yang mengalami masalah lever, biasanya orang tersebut mempunyai isu kemarahan. Panjang gelombang yang dihasilkan oleh kemarahan sama dengan panjang gelombang yang dihasilkan oleh molekul-molekul dari sel-sel pembentuk lever. Demikian juga perasaan sedih selaras dengan darah, sehingga orang yang sedih cenderung mudah terkena leukimia dan stroke jenis pendarahan. Rasa kesal yang terus-menerus akan merusak sistem saraf, sering kali menjurus ke nyeri, kepekaan, dan kekakuan otot di leher bawah dan pundak.

Secara ilmiah, memang ada hubungan antara qolbu dan tubuh, antara jiwa dan raga. Dosa yang merusak qolbu, secara ilmiah, diakui dapat merusak tubuh. Maka benarlah sabda Rasulullah SAW.

Kurang Beribadah

Kurang beribadah di sini bukan berarti malas beribadah. Kurang beribadah di sini adalah ketika seseorang telah melakukan ibadah wajib dan sunnah, namun Allah telah menetapkan maqom tertentu baginya pada masa yang Dia tetapkan, dan ibadahnya belum cukup untuk mengantarkannya ke maqom tersebut. Maka Allah berikan penyakit padanya hingga ia sampai kepada maqom tersebut disebabkan ibadah hati berupa sabar dan ikhlash.

Older Posts »

Categories