Mendekati usia 40 tahun, mulailah tumbuh pada diri Muhammad saaw kecenderungan untuk melakukan ‘uzlah (mengasingkan diri). Allah menumbuhkan pada dirinya rasa senang untuk melakukan ikhtila’ (menyendiri) di gua Hira. Ia menyendiri dan beribadah di gua itu selama beberapa malam. Kadang sampai sepuluh malam, kadang lebih dari itu. Kemudian beliau kembali ke rumah sejenak hanya untuk mengambil bekal baru untuk melanjutkan ikhtila’nya di gua Hira.
Pada suatu saat ketika ber’uzlah di gua Hira, datanglah malaikat mengampiri Muhammad lalu berkata malaikat itu, “Bacalah!†Beliau menjawab, “Aku tidak dapat membaca.†Malaikat itu lalu mendekati Muhammad dan memeluknya hingga beliau merasa lemah sekali, kemudian melepaskannya. Malaikat itu berkata lagi, “Bacalah!†Beliau menjawab, “Aku tidak dapat membaca.†Malaikat itu mendekati Muhammad lagi dan memeluknya, sehingga beliau merasa tidak berdaya sma sekali, kemudian beliau dilepaskan lagi. Malaikat itu berkata lagi, “Bacalah!†Muhammad saaw menjawab, “Aku tidak dapat membaca.†Untuk ketiga kalinya Malaikat itu mendekati Muhammad dan mendekapnya hingga beliau saaw merasa lemas, kemudian dilepaskan kembali. Selanjutnya Malaikat itu berkata, “Bacalah dengan nama Rabb-mu Yang telah Menciptakan… Menciptakan manusia dari segumpal darah… “ dst (lihat QS. Al-‘Alaq:1-5).
Di dalam Alkitab ada terdapat demikian:
Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak membaca dengan mengatakan, “Baiklah baca ini,†maka ia akan menjawab: “Aku tidak dapat membaca.†(Yesaya 29:12)
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. (QS. 7:157)
Muhammad Rasulullah saaw segera pulang dalam keadaan gemetar sekujur badannya menemui Khadijah, lalu berkata, “Selimutilah aku… selimutilah aku.†Kemudian beliau diselimuti hingga hilang rasa takutnya. Setelah itu beliau berkata kepada Khadijah, “Hai Khadijah, tahukah engkau mengapa aku tadi begitu?†Lalu beliau menceritakan apa yang baru dialaminya.
Setelah menceritakan peristiwa itu, beliau saaw berkata, “Aku sesungguhnya khawatir terhadap diriku dari gangguan makhluk jin.â€
Siti Khadijah menjawab, “Tidak! Bergembiralah! Demi Allah, Allah sama sekali tidak akan membuat Anda kecewa. Anda seorang yang suka menyambung tali keluarga, selalu menolong orang yang susah, menghormati tamu dan membela orang yang berdiri di atas kebenaran.â€
Beberapa saat kemudian Khadijah mengajak Rasulullah saaw menemui Waraqah bin Naufal, salah seorang sepupu Khadijah. Di masa jahiliyah ia memeluk agama Nasrani. Ia dapat menulis dalam huruf Ibrani, bahkan pernah menulis bagian-bagian dari Injil dalam bahasa Ibrani. Ia seorang yang sudah lanjut usia dan telah kehilangan penglihatan. Kepadanya Khadijah berkata, “Wahai anak pamanku, dengarkanlah apa yang hendak dikatakan oleh anak lelaki saudaramu.†Waraqah bertanya kepada Muhammad saaw, “Hai anak saudaraku, ada apa gerangan?†Rasulullah saaw kemudian menceritakan apa yang dialminya di gua Hira. Setelah mendengarkan keterangan Rasulullah saaw, Waraqah berkata, “Itu adalah malaikat yang telah diutus Allah kepada Musa (as). Alangkah bahagianya seandainya aku masih muda perkasa! Alangkah gembiranya seandainya aku masih hidup dan dapat membelamu tatkala kamu diusir oleh kaummu!†Rasulullah saaw bertanya, “Apakah mereka akan mengusir aku?†Waraqah menjawab, “Ya. Tak seorang pun yang datang membawa seperti apa yang kamu bawa kecuali akan diperangi. Seandainya kelak aku masih hidup dan mengalami hari yang kamu hadapi itu, pasti kamu kubantu sekuat tenagaku.†Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia, dan untuk beberapa waktu lamanya Rasulullah saaw tidak menerima wahyu. Menurut Baihaqi masa terhentinya wahyu itu selama 6 bulan.
Tentang kedatangan Jibril yang kedua, Bukhari meriwayatkan sebuah riwayat dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saaw berbicara tentang terhentinya wahyu. Beliau berkata kepadaku: “Di saat aku sedang berjalan tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Ketika kepala kuangkat, ternyata malaikat yan datang kepadaku di gua Hira, kulihat sedang duduk du kursi antara langit dan bumi. Aku segera pulang menemui isteriku dan kukatakan kepadanya, ‘Selimutilah aku… selimutilah aku… selimutilah aku!’ Sehubungan dengan itu Allah kemudian berfirman, “Hai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan. Adapun Rabbmu, maka agungkanlah. Dan pakaianmu, maka sucikanlah. Dan perbuatan dosa, maka jauhilah.†(lihat QS. Al-Muddatstsir: 1-5)
Sejak itu wahyu mulai diturunkan secara kontinyu.