Posted by: amrandazmind | February 12, 2007

SOMBONG

Sombong adalah kita merasa diri kita baik, memandang rendah orang lain, dan menolak kebenaran.
Ibnul Qayyum Al-Jauzi pernah berkata tentang lima kekayaan sebagai berikut:
1.       Sesungguhnya semakin bertambah ilmunya semakin bertambah pula kesombongan dan kecongkakannya.
Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa menuntut ilmu supaya bisa berbangga dengan ilmu itu terhadap ulama, atau supaya dengan ilmu itu ia dapat menyanggah orang-orang bodoh, atau supaya dengan ilmu itu orang memandang          kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.” (Al-Hadits)
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia bercakap hanya perkara yang baik atau diam dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia memuliakan jiran tetangganya. Begitu juga barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia memuliakan para tetamunya. [HR. Bukhori (Etika: 5559), Muslim (Iman: 67), Tirmidzi (Suasana Hari Kiamat: 2424), Abu Dawud (Etika: 4487), Ibnu Majah (Fitnah: 3691), Ahmad bin Hanbal]
Ilmu merupakan salah satu syarat diterimanya suatu amal. Ilmu lebih berharga dari dunia seisinya. Jika manusia memandang ilmu tanpa kacamata iman dan tawadhu`, maka manusia bisa terperosok ke dalam kesombongan. Berapa banyak orang yang berilmu sedikit, menganggap bahwa dirinya telah mendapatkan ilmu seluruhnya.
Rasulullah SAW bersabda, “Ketika aku mi’raj, aku diperlihatkan neraka, lalu aku melihat sebagian penduduk neraka adalah orang-orang miskin.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah miskin dari harta?” Rasulullah   SAW   menjawab,   “Tidak, melainkan miskin ilmu.” (Al-Hadits)
2.      Setiap bertambah amalnya, semakin bertambah kebanggaannya dan semakin memandang rendah orang lain, serta semakin bertambah prasanggka baik terhadap diri sendiri. Berkata Syeikh Ibnu ‘Athoillah As Sukandari, “Engkau terhadap Shifat PenyantunNya ketika melakukan ketha’atan kepadaNya adalah lebih membutuhkan daripada engkau terhadap PenyantunNya ketika berbuat ma’siat kepadaNya.” Beliau juga berkata, “Sebagian dari tanda-tanda orang yang membanggakan amal perbuatannya ialah kurang berharap akan Rahmatullah ketika terjadi kekhilafan pada dirinya.”
Di dalam sebuah hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman, ”Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang benar (shiddiq), janganlah kalian tertipu (atas amal perbuatan kalian). Karena sesungguhnya Aku jika Aku tegakkan KeadilanKu, pasti Aku siksa mereka tanpa merupakan kezhaliman terhadap mereka. Dan katakanlah kepada orang-orang yang berbuat salah (dosa), janganlah kalian berputus asa dari (mengharap) RahmatKu. Karena sesungguhnya Aku tidak menganggap besar dosa yang telah Aku ampuni.”
Di saat kita berbuat ketha’atan bahkan setelah kita berbuat ketha’atan banyak sekali godaan-godaan yang berusaha mengotori ketha’atan kita tersebut, seperti ujub, riya`, sombong, dsb. Kita berfikir telah melakukan ketha’atan, padahal belum tentu amal kita itu bersih dan diterima. Kita tidak berfikir akan kemungkinan-kemungkinan bahwa kita telah melakukan suatu ma’siat dengan amal tersebut Berbeda dengan ketika kita berbuat ma’siat. Kita justeru tidak mengharapkan ampunan Allah dan Rahmatullah setelah kita berbuat ketha’atan dapat menyadari kesalahan kita tersebut, sehingga kta dapat dengan segera memohon ampunan dan rahmatullah. Maka termasuk kesombongan adalah jika kita tidak mengharapkan ampunan Allah dan Rahmatullah setelah kita berbuat ketha’atan dan kema’siatan. Tanpa ampunan dan rahmah dari Allah, manusia tidak akan masuk ke dalam surga. Tidak ada manusia yang masuk ke dalam surga dengan amalnya, tetapi dengan Rahmatullah itulah manusia dan jin dapat selamat dari api neraka dan masuk ke dalam surga dan mendapat RidhaNya.
Sesungguhnya semua amal kebajikan kita adalah anugerah dari Allah. Tidak pantas kita menyombongkan amal kita yang belum tentu diterima Allah. Tidak pantas kita membanggakan amal perbuatan kita, padahal kita tidak memiliki kekuatan untuk berbuat kebajikan kecuali dengan KekuasaanNya. Dosa-dosa kita tidak akan terhapus dengan amal shalih kita. Hanya Allah yang dapat menghapus dosa-dosa kita seluruhnya. Maka mohonlah Rahmat Allah dan AmpunanNya. Mohonlah dengan amal shalih. Dan ketahuilah bahwa amal shalih itu adalah tanda bahwa Allah sudah mau mengampuni dan menyayangi kita. Jika Allah masih marah, tentu Ia akan membiarkan kita dalam ma’siat. Rahmat Allah itu sangat dekat* dengan orang-orang yang berbuat amal shalih. Maka marilah kita beramal shalih karena ridho Allah.
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-A’raf: 56)
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`. (Q.S. Al-Baqarah: 45)
Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Q.S. Al-Kahfi: 110)
3.      Semakin bertambah usianya, semakin bertambah rakus dan serakahnya.
Terkadang orang yang lebih tua merasa lebih hebat dari orang yang muda. Ia merasa lebih berhak mendapatkan keutamaan, penghormatan, dan dinomor satukan. Dia haus akan kehormatan dan serakah akan dunia. Begitulah anugerah tanpa syukur. Tidak bermanfaat tetapi justeru membawa mudharat. Terkadang kita juga sungkan untuk menerima nasihat dari orang yang lebih muda. Kita merasa lebih bijak dari orang yang lebih muda. Padahal kebijakan seseorang tidak ditentukan oleh usia melainkan oleh cara berfikir.
4.      Semakin menumpuk hartanya, semakin bertambah bakhil dan kikirnya.
Jika manusia memiliki dua gunung emas, maka ia akan mencari gunung emas yang ketiga. Banyak manusia yang telah dilalaikan oleh harta. Dia membelanjakan hartanya hanya untuk kepentingan duniawi belaka. Padahal harta menjadi tidak berguna jika tidak digunakan di jalan Allah. Dia lupa bahwa di dalam hartanya ada haq orang lain yang harus dikembalikan. Dia seakan tidak percaya akan kebenaran firman Allah bahwa zakat dan shadaqah itu mendatangkan kekayaan haqiqi. Sedangkan bakhil dan kikir mendatangkan kemiskinan. Jika kita berfikir harta yang kita miliki akan membuat kita bahagia, padahal kita kikir, berarti kita telah tertipu. Allah memperingatkan kepada kita bahwa bagi orang bakhil ada neraka huthamah (QS. Al-Humazah). Dalam surah Al-Lahab Allah juga memperingatkan kepada kita bagaimana harta menjadi tidak berguna jika tidak digunakan di jalan Allah, apalagi bila digunakan untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Maka kecelakaanlah bagi orang yang menggunakan hartanya untuk mengeluarkan orang dari agama Islam. Hartanya itu tidak akan dapat menyelamatkan dia dari api neraka. Bukan kekayaan dan kebahagiaan yang dia dapat, melainkan kepailitan dan kesedihan tiada akhir.
5.      Semakin meningkat derajat/ kedudukannya, semakin meningkat pula kesombongan dan keangkuhannya.
Pada zaman N. Musa ada seseorang yang sangat rajin beribadah dan ilmu agamanya juga dalam. Hanya saja ia memiliki  potensi sombong  seperti  ‘Azazil (Iblis). Dia tinggal di antara kaum yang durhaka kepada Allah yang mana Nabi Musa bersama tentaranya akan menyerang mereka bila tetap durhaka. Maka kaum tersebut meminta pertolongan kepada sang ulama agar dapat menghalangi Nabi Musa dan tentaranya. Setelah dipuji-puji sebagai orang yang dekat dengan Allah, ia pun berjanji untuk berdoa agar rencana Nabi Musa digagalkan. Namun Allah memberi tanda bahwa Dia tidak suka akan perbuatan ulama tersebut. Untuk menjaga reputasinya di mata manusia, ia pun membuat rencana jahat sehingga tentara Nabi Musa mengalami kekalahan. Tetapi ulama tersebut berhasil dibunuh dan mati di dalam kemurkaan dan la’nat Allah. Na’udzubillahi min dzalik.
Demikianlah manusia dibutakan oleh ilmunya, amalnya, jabatannya, hartanya, keelokan rupanya, dan segala kekayaannya; sehingga tidak dapat melihat Kasih-Sayang Allah. Bukan kekayaannya yang salah, tetapi hatinya lalai dari mengingat Allah. Bila hatinya hidup dengan dzikrullah, maka segala kekayaan itu akan ia pandang sebagai karunia dari Allah. Demikianlah hati, memerlukan dzikir, ilmu dan yaqin. Sebagaimana tubuh perlu untuk makan, minum, mandi, olahraga, dsb. Mari kita mengolah jiwa dan hati kita, membersihkannya, serta memberinya makan dan minum.

 

 

* Jika dikatakan Allah atau RahmatNya dekat dengan manusia, bukan berarti Allah itu bersatu dengan manusia. Tetapi coba fikir, siapakah yang menggerakkan kita untuk makan, minum, shalat dan sebaginya? Siapakah yang menopang kaki kita, mengangkat tangan kita, menggerakkan lisan kita? Allah yang melakukan ini semua. Inilah bukti bahwa Allah itu dekat.
 

 


Categories