Posted by: amrandazmind | February 23, 2007

BUTA HATI (KISAH NABI IBRAHIM)

Sebagian dari kita mungkin bertanya, “Mengapa ada orang yang telah melihat dalil-dalil yang jelas, akan tetapi dia tetap saja ingkar kepada Tuhan yang haq?” Mereka ingkar bukan disebabkan buta mata kepala, tetapi mata hatinya itu yang buta.
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.  [QS. Al-Hajj: 46]
Orangtua atau pun guru kita mungkin pernah bercerita tentang Nabi Ibrahim dan bapaknya yang pembuat patung. Kisah itu memang terkenal dalam Al-Qur`an dan juga Injil Barnabas. Dikisahkan dalam Injil Barnabas demikian:
Yesus berkata, “Abraham berumur tujuh tahun ketika dia mulai mencari Allah. Demikianlah pada suatu hari dia berkata kepada ayahnya, ‘Bapak, apakah yang menjadikan manusia?’”
Bapak yang dungu itu menjawab, “Manusia, karena aku telah menjadikan kamu. Dan ayahku telah menjadikan aku.”
Abraham berkata, “Bapak, tidak demikian, karena aku telah mendengar seseorang tua sambil menangis dan seraya berkata, ‘Oh Allahku karena apa Engkau tiada memberiku anak-anak?’” (Ini berarti bahwa ternyata seorang manusia tidak sanggup menjadikan anak sesuai kehendaknya sendiri.)
Ayahnya membalas, “Itu betul anakku, bahwa Allah menolong manusia untuk membuat manusia, akan tetapi Dia bukan menaruhkan tangan-tangan-Nya ke sana, hanya cukup manusia itu berdoa kepada Tuhannya lalu memberikan kepada Dia anak lembu dan domba, lantas Tuhannya akan menolongnya.”
Abraham berkata, “Berapa banyak adanya tuhan-tuhan itu, bapak?” Orang tua itu membalas, “Mereka ada tak terbatas jumlahnya anakku.” Lalu kata Abraham, “O bapak, apa yang akan aku lakukan, jika aku akan menyembah satu Tuhan, sedangkan yang lain akan menganggap aku berdosa, karena aku tiada mengabdi kepadanya. Bagaimana juga akan timbul perselisihan sesama mereka dan dengan begitu peperangan akan berkobar di antara tuhan-tuhan itu. Selain itu jika barangkali Tuhan yang menginginkan aku berdosa, akan membunuh Tuhanku sendiri, apa yang akan aku perbuat? Tentu saja dia akan membunuh aku pula.”
Orang tua itu sembari tertawa menjawab, “O anak, jangan takut karena tidak ada tuhan berbuat perang dengan Tuhan lain. Apalagi dalam kuil besar ada seribu tuhan dengan yang besarnya tuhan Baal. Sedangkan aku sekarang mendekati umur 70 tahun, dan hingga kini tak pernah tahu, bahwa seorang tuhan telah mengalahkan tuhan lain. Dan sudah tentu semua manusia tidak menyembah satu tuhan, tetapi satu manusia satu tuhannya dan begitu juga yang lain.”
Abraham menjawab, “Begitu, lalu mereka damai di antara mereka sendiri?”
Kata ayahnya, “Begitulah mereka.”
Kemudian berkata Abraham, “O ayah, seperti apakah tuhan-tuhan itu?”
Orang tua itu menjawab, “Bodoh, tiap hari aku telah membuat satu tuhan yang aku jual kepada orang lain untuk membeli roti. Masa kamu tidak mengenal seperti apa tuhan-tuhan itu!” Ketika itu dia sedang membuat sebuah berhala. “Ini,” katanya, “adalah dari kayu pohon palem, yang satu itu dari batang Zaitun, yang kecil itu dari gading, lihat betapa bagusnya! Bukankah kelihatannya seakan-akan ia hidup? Pasti kekurangannya hanya nafas.”
Abraham menjawab, “Begitulah bapak, tuhan-tuhan itu adalah tanpa nafas. Lalu bagaimana mereka memberi nafas? Sedangkan adanya tanpa kehidupan, bagaimana mereka memberi kehidupan? Tentu ayah bahwa semua ini bukanlah Allah.”
Orang tua itu marah pada kata-kata ini, berkata, “Seandainya sekarang kamu telah dewasa untuk mengerti, aku pecahkan kepalamu dengan kampak ini; tetapi kamu aman karena kamu belum mempunyai pengertian!”
Abraham berkata, “Bapak, jika tuhan-tuhan itu menolong menjadikan manusia, bagaimana bisa jadi, bahwa manusia menjadikan tuhan-tuhan itu? Dan jika tuhan-tuhan itu terbuat dari kayu, suatu dosa besar membakar kayu. Tetapi terangkan padaku, bapak, bagaimana itu. Apalagi engkau telah membuat begitu banyak tuhan-tuhan. Tuhan-tuhan itu tidak menolongmu untuk menjadikan demikian banyak anak-anak lainnya, sehingga engkau akan menjadi manusia yang paling kuasa di dunia.”
Bapak itu di luar dugaannya sendiri, mendengar anaknya berbicara demikian; anak itu meneruskan, “Bapak, adakah dunia ini untuk beberapa waktu tanpa para manusia?”
“Ya”, jawab orang tua itu, “lalu kenapa?”
“Karena”, kata Abraham, “Aku akan senang mengetahui siapa membuat Tuhan pertama itu.”
“Sekarang keluarlah dari rumahku!”, kata orang tua itu, “Dan tinggalkan aku untuk membuat tuhan ini dengan cepat, dan jangan berkata-kata kepadaku; karena bila kamu lapar, kamu menginginkan roti dan bukan kata-kata.”
Berkata Abraham, “Sungguh suatu tuhan yang baik bahwa engkau potong dia sebagaimana engkau mau, dan dia tidak mempertahankan dirinya sendiri!”
Lalu orang tua itu marah, dan berkata, “Seluruh dunia mengatakan bahwa itu tuhan dan kamu orang lelaki kegila-gilaan, mengatakan bahwa itu bukan. Demi tuhan-tuhanku, jika kamu seorang manusia dewasa, aku dapat membunuhmu!” Dan setelah mengatakan ini, ia memberi pukulan dan tendangan kepada Abraham, dan menghalaunya dari rumah.”
Yesus berkata lagi, “Pada suatu hari, Abraham mencapai umur 12 tahun, bapaknya berkata kepadanya, ‘Besok adalah perayaan pesta dari seluruh tuhan-tuhan. Karena itu kita akan pergi ke kuil besar dan membawa suatu sesembahan kepada tuhanku, Baal yang besar. Dan engkau akan pilih sebuah tuhan untuk dirimu sendiri, karena kamu telah berumur untuk memilih satu tuhan.’”
Abraham menjawab dengan tipu daya, “Dengan sudi, o bapakku.” Dengan demikian terjadilah waktu itu di kepagian mereka pergi sebelum tiap-tiap orang lain ke kuil itu. Tetapi Abraham menyediakan di bawah baju seragamnya sebuah kampak tersembunyi. Dalam pada itu setelah memasuki kuil itu, sementara kerumunan orang bertambah, Abraham menyembunyikan diri di belakang sebuah patung dewa di bagian kuil yang gelap. Bapaknya, ketika telah berangkat pulang menyangka bahwa Abraham telah pergi pulang mendahuluinya. Oleh sebab itu ia tidak tinggal mencarinya.
Ketika setiap orang telah berangkat dari kuil itu, para pejabat agama menutup kuil itu lalu pergi. Kemudian Abraham mengambil kampak itu dan memotong kaki-kaki semua arca itu kecuali Baal. Pada kakinya dia meletakkan kampak itu, di tengah-tengah reruntuhan bahan-bahan arca, karena tersusun dari potongan-potongan, yang dibuat dalam masa lalu, telah jatuh berantakkan berkeping-keping. Dalam pada itu, Abraham keluar dari kuil itu, dilihat oleh orang-orang tertentu, yang mencurigainya habis mencuri sesuatu dari kuil itu. Jadi mereka mengadakan penahanan terhadapnya, dan setelah sampai di kuil itu, ketika mereka melihat tuhan-tuhannya begitu pecah berantakan, mereka berteriak-teriak dibarengi ratap tangis, “Datanglah dengan cepat, o manusia, dan mari kita bunuh orang yang membunuh tuhan-tuhan kita!” Di sana telah berkumpul cepat kira-kira 10 ribu orang dengan pejabat-pejabat agama, lalu menanyai Abraham tentang sebab mengapa ia telah menghancurkan tuhan-tuhan mereka.
Abraham menjawab, “Kamu semua adalah bodoh! Akan adakah seorang manusia membunuh tuhan? Adalah tuhan yang besar itu yang telah membunuh mereka. Tidakkah engkau lihat bahwa kampak besar itu yang dia miliki berada dekat kakinya? Tentunya bahwa ia tak ingin kawan-kawan.”
Kemudian telah sampailah ke sana bapak dari Abraham, yang masih ingat betul terhadap banyak percakapan Abraham menentang tuhan-tuhan mereka dan mengenal kampak yang digunakan Abraham untuk menghancurkan patung-patung itu, berteriak, “Hal itu adalah anakku pengkhianat ini yang telah membunuh tuhan-tuhan kita!”
Maka orang-orang itu mengumpulkan setumpuk besar kayu dan setelah mengikat tangan dan kaki Abraham, diletakkannya di atas kayu itu, lalu menyalakan api di bawahnya. Ingatlah! Allah dengan perantaraan malaikat-Nya memerintahkan kepada api itu agar tidak membakar Abraham hamba-Nya. Api itu meluap dengan kemarahan yang besar, lalu membakar lebih kurang 2 ribu orang yang telah menghukum Abraham untuk mati. Sungguh Abraham tersingkir dari kematian. (Lihat Alquran 21:57-69; 37:91-97; Injil Barnabas psl. 27-28.)
Demikianlah, mereka telah buta. Bukan buta mata kepala, akan tetapi hati merekalah yang buta. Mereka telah mendengar argumentasi Ibrahim yang sangat masuk akal, namun mereka tetap tidak beriman kepada Tuhan yang haq, Allah Yang Mahaesa. Namun demikian, Nabi Ibrahim tidak putus asa dalam mengantarkan ummatnya untuk beriman kepada Allah. Berilah peringatan, karena peringatn itu bermanfaat. Memberi peringatan itu bukanlah tindakan sia-sia. Jika kemudian ada orang yang begitu dungu dan buta hatinya sehingga ia tidak mau beriman kepada Allah Yang Esa, maka bersabarlah atas kebodohan mereka. Bersabarlah atas orang-orang yang berkata bahwa manusia telah menyalib Tuhan hingga mati.


Categories